logoblog

Cari

Tutup Iklan

Tradisi Peta Kapanca di Soromandi

Tradisi Peta Kapanca di Soromandi

KM Wadupa’a: Peta kapanca merupakan salahsatu budaya yang berasal  Bima.  Peta  berarti tempel dan kapanca yang berarti pewarna kuku alami. Tradisi

Sosial & Keagamaan

KM. Wadupa-a
Oleh KM. Wadupa-a
26 Januari, 2014 16:09:37
Sosial & Keagamaan
Komentar: 0
Dibaca: 3739 Kali

KM Wadupa’a: Peta kapanca merupakan salahsatu budaya yang berasal  Bima.  Peta  berarti tempel dan kapanca yang berarti pewarna kuku alami. Tradisi ini biasanya diperuntukan bagi perempuan yang akan melepas masa perawannya sehingga siap  disunting kepelaminan oleh calon suaminya. Selain itu merupakan momentum   memohon ridha Tuhan yang maha esa memberkahi ruma tangga.

Peta kapanca dikenal sejak zaman kesultanan dan diperkirakan ada tahun 1960-an. Prosesi tersebut diawali dengan mendadani perempuan dengan pakaian adat  Bima. Dikawal  keluarga calon pengantin wanita dan calon ibu mertua beserta keluarga. Selanjutnya ditandu oleh beberapa orang dengan kursi empuk (sofa) menuju tempat yang sudah disediakan.

Hingga saat ini tradisi peta kapanca kadang juga dilaksanakan beberapa calon pengantin di Kecamatan Soromandi Kabupaten Bima. Selama perjalanan diiringi dengan prosesi zikir Hadara. Menggunakan rebana sebagai instrumen musik, para pemain juga melantunkan zzikir yang berirama. Tak hanya itu, ada beberapa pasang laki-laki yang disebut “goya hadara” menemani wanita tersebut dengan tarian dan lantunan zikir hingga sampai ke tempat tujuan. Tradisi ini  juga dilakukan pada acara keagamaan.

Setelah sampai, selanjutnya calon pengantin wanita diijinkan duduk di atas lesehan dan ditemani oleh empat buah lilin. Sebelum  peta kapanca terlebih dahulu dilakukan zikir oleh beberapa orang sambil memegang dan melambaikan sapu tangan kuning. Hal ini dimaksudkan agar Allah meridhai rumah tangga yang dirajut pasangan.

Usai zikir dilanjutkan  puncak acara yakni prosesi peta kapanca. Prosesi diawali  calon ibu mertua, kemudian secara berurutan para ibu-ibu undangan dipanggil sesuai nama dan urutannya. Setelah melakukan peta kapanca para ibu-ibu tersebut dihadiahi sebutir telur yang dibungkus rapi dengan kertas dan diikat pada tongkat bambu.

 

Baca Juga :


Telur tersebut tidak bisa dimakan oleh orang yang sudah berkeluarga. Nantinya akan diberikan pada anaknya yang masih lajang dan dipercayai cepat mendatangkan jodoh bagi yang memakannya. (AH)

 



 
KM. Wadupa-a

KM. Wadupa-a

Koordinator: FACHRUNNAS Email : kampungmediawadupaa@gmail.com Komunitas Jurnalisme Warga. Menyuguhkan Informasi seputaran Soromandi dan Wilayah Sekitar.

Artikel Terkait

0 KOMENTAR

Belum ada komentar.
Berikan Komentar Bermanfaat Meski Satu Kalimat
 
 

TULIS KOMENTAR

Silahkan Login terlebih dahulu untuk mengisi komentar.
 
Copyright 2008 - 2018 | kampung-media.com. All rights reserved.
 
Tutup Iklan