logoblog

Cari

Tutup Iklan

Masyarakat Kelayu Dengan Penyebaran Ajaran Islam

Masyarakat Kelayu Dengan Penyebaran Ajaran Islam

Sebuah tuturan lisan yang terjadi secara turun-temurun dari Masyarakat Kelayu Selong Lombok Timur bahwa nenek moyang mereka berasal dari Selaparang Islam.

Sosial & Keagamaan

KM JONG CELEBES
Oleh KM JONG CELEBES
13 Februari, 2015 13:22:16
Sosial & Keagamaan
Komentar: 20
Dibaca: 40754 Kali

Sebuah tuturan lisan yang terjadi secara turun-temurun dari Masyarakat Kelayu Selong Lombok Timur bahwa nenek moyang mereka berasal dari Selaparang Islam. Kedatangan nenek moyang mereka di Desa Kelayu terjadi pada sekitar abad ke-18, yaitu ketika sekelompok musyafir dari kerajaan  Selaparang Islam yang melakukan perjalanan jauh dengan melalui hutan belantara, yang akhirnya  menemukan sebuah kawasan yang banyak ditumbuhi oleh pohon Jewet (pohon kelayu) dan menetap di hutan Jewet tersebut.Hingga pula kawasan yang dtumbuhi oleh sejumlah pohon Jewet atau pohon kelayu menjadi nama pada perkampungan ini, yaitu Desa Kelayu.

Menurut dari Bapak Haji Fadlullah selaku Pengurus Masjid Al-Umari Kelayu bahwa pada saat itu, ketika kelompok musyafir ini menetap di hutan Jewet ini, mereka pun membentuk kegiatan pengajian. Bentuk pengajian ini dilakukan dengan cara mengumpulkan berbagai penduduk yang pola hidupnya belum beraturan.

Bapak Haji Fadlullah yang juga selaku kordinator pendidikan di Masjid Al-Umari  Kelayu mengatakan bahwa pada sekitar awal abad ke-19, kegiatan Dakwah Islamiayah di Desa Kelayu telah berkembang di saat munculnya seorang tokoh spiritual yaitu Haji Amin, yang mana beliau merupakan orang kelayu yang pertama menunaikan ibadah haji ke tanah suci (Mekkah). Adapun materi pengajaran yang sering disampaikan di depan ummat muslim pada waktu itu adalah  berkisar pada perukunan (Fiqih) dan sifat duapulu (tauhid) yang diajarkan dengan metode halaqah, selain itu, beliau juga aktif mengajarkan baca Al-Qur’an, bagi orang Kelayu menyebutnya sebagai ‘Ngaji bawak Lumbung’.

 Dalam pengembangan ajaran agama Islam di Desa Kelayu dan sekitarnya, H. Amin mengembangkan jam tayangnya untuk memberikan pengajaran membaca Al-Qur’an di berbagai tempat atau pada semua lapisan masyarakat yang ada di wilayah ini sehingga kegiatan ibadah membaca al-Qur’an dapat dilihat di setiap rumah warga penduduk,  khususnya Ba’da sholat magrib sampai waktu isya.

Toko spiritual lain yang ada di wilayah desa Kelayu ini adalah Tuan Guru H. Umar. Menurut  dari Tuan Guru H. Yusron Zahidi, SHi selaku wakil ketua Pengurus Masjid Al-Umari bahwa Tuan Guru H. Umar adalah keturunan dari Datu Selaparang Islam yang telah banyak berjuang dalam mengembangkan ajaran agama Islam pada masyarakat Kelayu dan sekitarnya. Selain itu dikatakan juga bahwa Tuan Guru H. Umar pernah memperdalam ilmu agama Islam di tanah suci Mekkah, sehingga kompetensi ajaran agama Islam yang dimilikinya telah terwujud dalam kegiatan Dakwah Islamiah yang sering dilakukan di berbagai tempat. Beliau tidak membatasi kegiatan dakwanya di desa kelayu saja, namun beliau pun juga menyebarkan ilmu dan pengetahuaanya tentang ajaran Islam di Kabupaten Lombok Tengah dan Kabupaten Lombok Barat.

Selain itu bahwa Tuan Guru H. Umar dalam meningkatkan wujud  kebersamaan masyarakat Kelayu dalam peribadahan, beliaupun mendirikan sebuah Masjid di wilayah kelayu ini yang cukup sederhana pada waktu itu,  yaitu sekitar tahun 1300, dan kini telah berubah menjadi sebuah masjid yang terbilang besar di Kecamatan Selong Kabupaten Lombok Timur.

Terkait dengan hal di atas, dalam pengembangan ajaran agama Islam di desa kelayu, oleh Tuan Guru H. Umar mengajak adiknya Ormat (Papuk Isah) untuk bersama-sama menumbuh-kembangkan ajaran agama Islam di desa kelayu ini, sehingga pada saat itu, Ormat (papuk Isah) berjuang untuk menumbuh-kembangkan ajaran agama Islam tersebut di wilayah Teros, Dasan Kurang, Sampai ke Penade Gandor, yang kesemuanya merupakan wilayah desa Kelayu kecaamatan Selong kabupaten Lombok Timur.

Selain di atas, beberapa tokoh spiritual lain juga yang muncul pada saat itu, yakni TGH.Abdulllah, H. Abdul Halim, H. Syamsuddin, dan H. Muhammad Natsir, yang masing-masing mengambil wilayah Gubuk Tengah sebagi tempat kegiatannya dalam mengembangkan ajaran Islam. Begitupun juga H. Munsyifuddin dengan wilayah  Kokoq Lauq, sedangkan Ust. Alimuddin H.S. dengan Ust. Mas’ud (Abu Masrah) di Presak, dan Guru Mahmud Mahya di Ledang.

Dari bapak H.Fadlullah selaku Kordinator pendidikan di Masjid Al-Umari Kelayu juga mengatakan bahwa mengenai kelanjutan tentang pengembangan ajaran agama Islam di Kelayu, atau pendidikan agama islam, warga penduduk Kelayu banyak menempuh pendidikan di arab saudi (Mekkah), Seperti contohnya TGH. Abdul Halim, TGH.Abdulllah, TGH.Munsyifuddin, TGH. M. Natsir, TGH. M. Husain, H. Yasin, H.Hamdun, dll. Namun setelah mereka berhasil atau sukses dalam menyelesaikan pendidikannya di Mekkah, merekapun kembali di Kelayu untuk membuka pengajian halaqah.

 

Baca Juga :


Selain itu pula, bagi masyarakat Kelayu yang tidak sempat mengirim anaknya ke tanah suci Mekkah, merekapun banyak yang menyekolahkan anaknya ke Madrasah NWDI di Pancor,  yaitu sekitar pada tahun 1937.  Namun kini, karena perkembangan masyarakat Kelayu, khususnya dalam hal kelembagaan pendidikan Islam menyebabkan bermunculannya pondok pesantren atau sekolah-sekolah yang bernuansa Islam, sehingga para orang tua yang ada  di Desa kelayu ini, kebanyakan mengirim anaknya ke sekolah Islam terdekat yang ada di Kelayu. Kecuali untuk jenjang pendidikan lebih tinggi, mereka masih mengirim anaknya di tempat lain, misalnya ke IAIH Pancor, IAIN Mataram, atau ke Jawa.

Selain hal tersebut di atas, penulis kembali menyampaikan bahwa kesadaran Masyarakat Desa Kelayu tentang pentingnya arti pedidikan bagi anak-anak  sangat tinggi. Risma Adithama (2004) mengatakan bahwa bagi Masyarakat Kelayu, mereka sudah menanamkan jauh –jauh hari sebelum kemerdekaan RI, bahkan sebelum masa pergerakan Nasional (Budi Utomo 1908). Hal ini dapat dilihat dengan banyaknya orang Kelayu yang mengirim anaknya untuk belajar ke Mekkah sejak masa pemerintahan Bali sampai zaman pemerintahan Jepang, sepeti TGH Umar (ke Mekkah pada tahun 1804).

Suatu alasan juga bagi Masyarakat Kelayu bahwa dengan menuntut ilmu agama Islam merupakan kewajiban, berbeda dengan ilmu umum. Risma Adithama (2004) mengatakan bahwa kewajiban menuntut ilmu agama berbeda dengan menuntut ilmu umum, namun hal ini menyebabkan adanya dikotomi yang sangat tajam antara madrasah denga sekolah umum, oleh karena itu madrasah jauh lebih diminati oleh Masyarakat kelayu ini.

Di sisi lain, dalam kenyataannya bahwa pada Masyarakat Kelayu profesi menjadi seorang guru banyak diminati, sehingga pula banyaknya Masyarakat Kelayu yang menuntut ilmu di jenjang pendidikan tinggi dengan memilih jurusan kependidikan di berbagai perguruan tinggi.Risma Adithama (2004) juga mengungkapkan bahwa pekerjaan yang lebih populer pada Masyarakat Kelayu adalah guru, karena pekerjaan guru dipandang lebih bernuansa ibadah. Paradigma ini cukup kuat dan dan bertahan lama. Paradigma baru dunia pendidikan Kelayu mulai nampak pada era 2000-an yaitu adanya perimbangan antara sekolah agama dan umum serta keterampilan, dan meskipun pada 1950-an sudah banyak orang Kelayu yang melanjutkan studi ke Pulau Jawa, namun masih didominasi dengan tujuan Pesantren, sedangkan yang jenjang perguruan tinggi kebanyakan pada IAIN dan IKIP bahkan di IAIN pun sebagian besar memilih Fakutas Tarbiyah (kependidikan), adapun yang melanjutkan ke jurusan lain jumlahnya lebih sedikit.

Semoga pembahasan di atas dapat menjadi cermin kehidupan bagi kita, khususnya bagi kalangan muslim, yang mana betapa pentingnya pendidikan agama untuk ditransformasikan pada generasi muda agar ajaran agama Islam yang telah tersiar dari zaman dulu sampai sekarang tetap menjadi pedoman hidup kita. [] - 01

 

 



 
KM JONG CELEBES

KM JONG CELEBES

Andi Mulyan Datu Tjondong Dari Kabupaten Soppeng (Sul-Sel) -, tinggal di Selong/Mataram , fb: - Aron Zaan, No. Hp. 085337771699, pendikan Si (sastra perancis -UNHAS),pendidikan : S2 Sosiologi,ngabdi di UNU NTB MATARAM< UGR LOTIM<

Artikel Terkait

20 KOMENTAR

  1. KM Masbagik

    KM Masbagik

    30 Mei, 2015

    luar biasa ulama-ulama terdahulu,


  • KM JONG CELEBES

    KM JONG CELEBES

    15 Februari, 2015

    Kok tulisan saya cepat menghilang dari hedline, padahal paling belakang masuk di headlin.


  • KM JONG CELEBES

    KM JONG CELEBES

    14 Februari, 2015

    Peran organisasi masjid Al-Umari sangat aktif, dan masing-masing divisi bekerja sesuai dengan tugas masing-masing. Adapun maslah pendanaan masjid itu dari tanah wakaf ditambah dengan sumbangan masyarakat yang dikelolalah oleh divisi zakat dari Masjid ini.


  • KM JONG CELEBES

    KM JONG CELEBES

    14 Februari, 2015

    Pada hari raya idul adha, masjid ini selalu mengorbankan sapi dengan jumlah yang sangat banyak. Untuk tehun kemarin ada 53 ekor sapi yang terpotong di depan Masjid ini dengan melibatkan 250 orang yang terlibat dalam kepanitiaan hari kurban.


  • KM JONG CELEBES

    KM JONG CELEBES

    14 Februari, 2015

    Unik itu adalah langkah, jadi keunikan ataulah kekeuatan masjid Al-Umari mampu mempersatukan antar ummat dari berbagai golongan, baik dari muhammadiya, nu, dan nw atau dan sebagainya. Ketika mereka berada di masjid ini mereka pada merasa bersaudara dan terjalin kekraban yang baik.


  • KM JONG CELEBES

    KM JONG CELEBES

    14 Februari, 2015

    H.Fadlullah selalu kordiantaor pendudikan Masjid Al-Umari mengatakan kalau Bapak Haji Maulana Syekh pernah jadi muridnya Tuan Guru H. Umar ketika berada di Mekkah.


  • KM JONG CELEBES

    KM JONG CELEBES

    14 Februari, 2015

    Pengakuan Bapak Haji Fadullah selaku Kordinator pengurus Masjid Al-Umari bahawa maulana Syekh pernah belajar pada Tuan Guru H. Umar di Mekkah.


  • KM JONG CELEBES

    KM JONG CELEBES

    14 Februari, 2015

    pengakuan masyarakat kelayu :Maulana Syek pernah menjdi murid dari Tuan Guru H. Umar ketika berda di Mekkah.


  • KM JONG CELEBES

    KM JONG CELEBES

    14 Februari, 2015

    ketika keturunan raja selaparang yang ada di suralaga datang menyerbu masyarakat kelayu, mereka tak berhasil karena semua masyarakat kelasyu pasda waktu masuk dan berkumpul di masjid AL_umari. masjid ini sebagai pusat benteng pertahannanam asyarakat kelayu dalam menghadapi musuh dari luar. Inilah keunikan masjid AL-Umari dengan kekuatan agamis yang bisa menolong umma yang ada di sekitarnya.


  • KM JONG CELEBES

    KM JONG CELEBES

    14 Februari, 2015

    gendang belek, jengger, dan wayang-wayang tidak diperbolrhkan oleh Datu Umar masuk di desa kelayu pada jamannya. kalupun nyongkolan diiringi dengan rebana.


  •  
     

    TULIS KOMENTAR

    Silahkan Login terlebih dahulu untuk mengisi komentar.
     
    Copyright 2008 - 2018 | kampung-media.com. All rights reserved.
     
    Tutup Iklan