logoblog

Cari

Peringatan Nuzulul Quran di Jejelok

Peringatan Nuzulul Quran di Jejelok

  Narmada KM Ratusan jamaah Nahdliyin memenuhi Masjid Nurudin Dusun Jejelok Desa Sembung Kecamatan Narmada mulai dari jamaah laki-laki dan perempuan sampai

Sosial & Keagamaan

abdul mustar
Oleh abdul mustar
06 Juli, 2015 14:59:25
Sosial & Keagamaan
Komentar: 0
Dibaca: 9086 Kali

Narmada KM Ratusan jamaah Nahdliyin memenuhi Masjid Nurudin Dusun Jejelok Desa Sembung Kecamatan Narmada mulai dari jamaah laki-laki dan perempuan sampai anak-anak pun ikut serta memenuhi ruangan masjid dalam rangka memperingati Nuzulul Quran,dan perayaan ini dilangsungkan pada malam sabtu bertepatan dengan tanggal 17 Ramadhan 1437 Hijriah.

Masjid seolah tak pernah sepi disetiap bulan Ramadhan, mulai dari shalat 5 waktu sampai kegiatan-kegiatan keagamaan seperti peringatan Nuzulul Quran yang diperingati oleh remaja Masjid Nurudin  Dusun Jejelok Desa Sembung Kecamatan Narmada yang diisi dengan pengajian yang disampaikan oleh Tuan Guru Ulul Azmi (Ulama NU),terlihat semangat masyarakat desa Sembung untuk menghadiri perayaan tersebut.

Bukan hanya dari masyarakat desa Sembung yang ikut meramaikan acara Nuzulul Quran ini,tapi warga Desa Mekar Sari desa yang berdekatan dengan Desa Sembung  pun ikut ambil bagian untuk meramaikan perayaan ini demi mendengarkan penceramah kondang yang digemarinya. Terlihat kesibukan haji syarif sebagai anggota panitia penyelenggara mempersilahkan para tamu undangan yang berdatangan secara bertahap.

Acara Nuzulul Quran ini dihadiri oleh Bukhari (kepala Desa Sembung) dan seluruh kepala dusun sewilayah desa sembung pun ikut berpartisipasi untuk memenuhi serambi masjid,masyarakat terlihat sangat khidmat mengikuti acara tersebut,dan disela-sela khusuknya jamaah mendengarkan ceramah, pecah tertawa riang karena kocaknya Tuan Guru menyampaikan pesan-pesan keagamaan.

Dalam ceramahnya Tuan Guru Ulul Azmi menyinggung tentang faham ahlussunah waljamaah yang sangat moderat dan toleran,bagaimana tetap menjaga tradisi budaya dengan tanpa membid’ahkan budaya-budaya masyarakat terdahulu  contohnya saja acara sembilan hari orang meninggal,maulid nabi dan lain-lain, sekarang banyak dibid’ahkan oleh ustadt-ustadt baru tegas Ulul Azmi dengan nada mengapi-api,beliau menyambung, tetapi kita yang berfaham ahlussunah waljamaah dengan dipayungi organisasi  NU insyaallah tetap membudayakan budaya-budaya tersebut karena ahlussunah adalah faham yang tawassutiah (sedang-sedang).

 

Baca Juga :


Tidak seperti faham-faham radikal yang mengharamkan dan membid’ahkan tradisi-tradisi  budaya lokal yang ditinggalkan tetua kita lanjut tuan guru dengan penuh keseriusan.Tuan Guru Ulul Azmi sangat tegas menolak faham yang sedikit-sedikit bid’ah dan mengharamkan budaya-budaya lokal (faham radikal) yang sudah menjadi kebiasaan masyarakat sasak pada umumnya.

Ceramah yang disampaikan Tuan Guru Ulul Azmi sangat sejalan dengan konsep keNUan yaitu konsep yang tawassut,tawazun dan ta’aaddul. Ceramah Tuan Guru juga sejalan dengan konsep Islam Nusantara yang digaungkan oleh NU dimana didalam konsep tersebut bukan mengislamkan budaya atau membudayakan islam tetapi diantara budaya lokal dan islam supaya seiring sejalan atau dengan kata lain berdakwah melalui pendekatan-pendekatan kultural seperti yang sudah dicontohkan oleh para wali songo terdahulu,berdakwah dengan menyesuaikan diri dengan budaya lokal yang ada.(red)

Beberapa hal penting lain juga yang disampaikan oleh Tuan Guru Ulul Azmi dalam ceramahnya  diantaranya Tuan Guru mengajak jamaah untuk menjaga panca indra dari hal-hal yang mungkin bisa membatalkan puasa dan selalu meningkatkan kualitas ibadah terutama dimalam 10 terakhir karena hal itu biasa dicontohkan oleh rasulullah SAW.(Mustar) - 05



 

Artikel Terkait

0 KOMENTAR

Belum ada komentar.
Berikan Komentar Bermanfaat Meski Satu Kalimat
 
 

TULIS KOMENTAR

Silahkan Login terlebih dahulu untuk mengisi komentar.
 
Copyright © 2008-2019 | kampung-media.com. All rights reserved.
 
Tutup Iklan