logoblog

Cari

Tutup Iklan

Sarjana dan Bayang Bayang Solusi Pengangguran

Sarjana dan Bayang Bayang Solusi Pengangguran

Sarjana dan bayang-bayang solusi pengangguran adalah tema yang diangkat dalam kajian Berugaq Institute bebarapa waktu yang lalu. Dua kata kunci “sarjana

Sosial & Keagamaan

agus dedi putrawan
Oleh agus dedi putrawan
18 November, 2015 12:30:05
Sosial & Keagamaan
Komentar: 0
Dibaca: 3637 Kali

Sarjana dan bayang-bayang solusi pengangguran adalah tema yang diangkat dalam kajian Berugaq Institute bebarapa waktu yang lalu. Dua kata kunci “sarjana dan pengangguran” akan kita bedah bersama-sama dalam tulisan ini.

Di Eropa Penguasaan atas alat-alat produksi melahirkan dua kelas yang bertentangan satu dengan lainnya, antara kelas Borjuis dan kelas Proletar (Karl Mark), namun dalam dunia kapitalis hari ini kelas itu pun berubah menjadi tiga kelas ekonomi; kelas miskin, kelas menengah, dan kelas menengah atas (Max Weber). Kemiskinan adalah sebuah kondisi sosial yang terjadi di hampir seluruh negara-negara dunia, baik Negara maju maupun Negara berkembang.

Di negara berkembang seperti Indonesia, kemiskinan selalu dikaitkan dengan pengangguran. Ketiadaan lapangan pekerjaan membuat beberapa orang di berbagai daerah seluruh Indonesia pasca krisis moneter bermigrasi memasuki kota, mengadu nasip dengan harapan mendapatkan pekerjaan dan gaji yang layak. Selain bermigrasi ke kota-kota besar, mereka juga mencoba mengadu nasip ke negara-negara tetangga menjadi Tenaga Kerja Indonesia (TKI) meski peluang dan tantangan belum jelas dihadapi. Hasil gaji mereka sebagian dikirim ke ayah, ibu, anak-anak mereka yang ada di kampung halaman di Indonesia.

Generasi Tenaga Kerja Indonesia akhir-akhir ini sadar betul bahwa sekolah adalah solusi atas segalanya. Sulit dipungkiri, hari ini pendidikan menjadi satu-satunya jalan “harapan” untuk merubah nasip masyarakat miskin. Memutus tali “setan” kemiskinan selalu dikait-kaitkan dengan pendidikan. Maka banyak riset dan kajian-kajian dibuat oleh para pakar dan peneliti di dunia akademisi maupun oleh peneliti lepas. Kondisi dikacaukan tatkala modern datang mengaburkan definisi kemiskinan.

Perbedaan orang miskin dengan orang kaya kini memudar tanpa ada garis demarkasi yang jelas. Apa bedanya orang desa dengan orang kota..? apa bedanya SBY dengan amak kangkong dalam konteks globalisasi. SBY punya televisi, handphone, sepeda motor begitu pun amak kangkong, apa yang dipunyai orang kota kini dimiliki orang desa. Sekarang internet telah masuk ke perkampungan yang membuat dunia semakin sempit, “mendekatkan yang jauh, menjauhkan yang dekat”. Modernisasi dengan globalisasi di segala bidang membuat masyarakat NTB semakin menjadi masyarakat konsumtif.

Dahulu masyarakat NTB tradisonal memasak dengan menggunakan kayu bakar, setiap pagi dan sore mereka mengambil kayu ke gunung atau pun hutan dekat dengan perkampungan mereka sembari mengembalakan sapi, kerbau dan kambing. Keseharian mereka dihabiskan dengan pola-pola kerja keras seperti ini hingga satu titik di mana pemerintah datang menawarkan “efisiensi”. Pemerintah mendatangkan minyak tanah untuk menggantikan fungsi kayu bakar, karena pohon-pohon harus dilindungi dari penebangan liar orang-orang tak bertanggung jawab.

Pelan-pelan kayu bakar pun ditinggalkan, masuklah fase kompor dengan minyak tanahnya.  di satu sisi masyrakat tradisional merasa terbantu, namun di sisi lain tak sadar mereka semakin menjadi masyarakat manja dan konsumtif. Kebiasaan-kebiasaan konsumtif ini semakin mengakar tat kala lahir generasi baru dengan dunia gadgetnya mengaleniasi generasi lama dengan istilah “jadul”. Belum selesai sampai di situ, fase berikutnya timbul dengan dilangkakannya minyak tanah oleh pemerintah yang membuat masyarakat kebakaran jenggot, namun dinina bobokan dengan datangnya Gas “tabung dan kompor gas” sebagai pengganti peran dan fungsi minyak tanah dan kompor biasa.             

Kembali ke topic utama, kata sarjana dan pengangguran sebenarnya sebuah kata yang tidak memiliki korelasi antar keduanya. Sarjana ya sarjana, mereka adalah produk dari sebuah institusi pendidikan di mana mereka akan mendapatkan gelar sesuai bidang konsentrasi yang diambil. Pengangguran ya pengangguran, mereka adalah orang-orang yang tidak memiliki pekerjaan yang jelas, tidak mendapatkan gaji berupa uang dari sebuah perusahaan, organisasi, perorangan. Kata sarjana selalu dikaitkan sebagai solusi atas pengangguran. Maka tidak sedikit yang kecewa mana kala kedua kata tersebut menyatu menjadi “sarjana pengangguran”.

 

Baca Juga :


Mari kita telaah bersama-sama, sarjana adalah gelar kekinian untuk para pencari ilmu. Namun karena setiap instansi “pemberi kerja” baik swasta maupun negeri membutuhkan tenaga kerja yang menguasai ilmu-ilmu tertentu, maka sarjana menjadi solusi menekan pengangguran. Dunia modern memaksa orang harus menjadi sarjana, orang semakin spesialis semakin mahal harganya, ambil contoh; dokter bedah lebih mahal dari dokter umum, ahli hukum lebih mahal dari gelar-gelar umum lainnya.

Padahal dalam realitasnya tidak semua sarjana memiliki pekerjaan bahkan terbalik, banyak orang yang tidak sarjana mempekerjakan para sarjana. Di sini, Pengangguran bukan bertitik tekan pada kesarjanaan, namun sebuah pemanfaatan sumberdaya yang dimiliki setiap individu; baik uang, usaha, ilmu, jaringan maupun waktu. Kita tak sadar bahwa modern membentuk kita laksana robot-robot pencari pekerjaan dengan keahlian dan spesialisasi-spesialisasi tersendiri. 

Jika kuliah difokuskan untuk mendapat pekerjaan, lalu apa pentingnya kuliah jika sudah mempunyai pekerjaan. Mungkin kalimat kunci inilah yang patut direnungkan bersama, dan distorsi ini harus segera diluruskan kembali. Kuliah bukan semata-mata untuk mendapatkan pekerjaan, namun sebuah estapet pencarian ilmu sepanjang hayat yang mungkin dimulai sejak kita dilahirkan hingga kita mati. Pekerjaan, jodoh, penghargaan adalah bentuk dari sebuah side effect (efek samping) dari sebuah pencarian ilmu.

Jika sarjana adalah solusi pengangguran, maka unversitas-universitas harus lah dimurahkan agar anak-anak miskin dapat hak atas pendidikan. Jika pun tidak mungkin, maka generasi miskin akan tetap menganggur di masa depan. Sarjana bukan solusi pengangguran, karena para sarjana pun kini banyak yang menganggur. Coba sesekali dengarkan lagu Iwan Fals yang berjudul “sarjana muda”, betapa mirisnya para sarjana muda, bersaing dengan puluhan bahkan ribuan lulusan institusi perguruan tinggi swasta/negeri setiap tahunnya mencari pekerjaan.

Menurut hemat penulis ada dua hal yang mampu menekan tingkat pengangguran. Pertama, sikap semangat kompetitif individu masyarakat seperti “fase kayu bakar”, bekerja keras, keilmuan yang intergrasi interkoneksi tidak hanya satu bidang. Kedua, penyediaan lapangan pekerjaan baik swasta maupun oleh pemerintah yang tidak nepotisme baik di kota maupun di pedesaan. Sarjana hari ini seharusnya bukan disebukkan mencari pekerjaan, tapi bagaimana ia menciptakan pekerjaannya sendiri. Yang terakhir, jangan “selalu” kaitkan sarjana dengan solusi pengangguran..! [] - 01



 

Artikel Terkait

0 KOMENTAR

Belum ada komentar.
Berikan Komentar Bermanfaat Meski Satu Kalimat
 
 

TULIS KOMENTAR

Silahkan Login terlebih dahulu untuk mengisi komentar.
 
Copyright 2008 - 2018 | kampung-media.com. All rights reserved.
 
Tutup Iklan