Cari

Tutup Iklan

Kampus Merah Mengabdi "Tamsis Peduli Korban Banjir"

Kampus Merah Mengabdi

KM TNC. Setelah Berhari-hari menyambangi satu persatu keluarga besar STKIP Taman Siswa Bima yang menjadi korban Banjir untuk membantu membersihkan Lumpur

Sosial & Keagamaan

Kampus Merah Mengabdi

Kampus Merah Mengabdi "Tamsis Peduli Korban Banjir"

Kampus Merah Mengabdi "Tamsis Peduli Korban Banjir"

KM. Tembe Nggoli
Oleh KM. Tembe Nggoli
30 Desember, 2016 21:20:36
Sosial & Keagamaan
Komentar: 0
Dibaca: 2520 Kali

KM TNC. Setelah Berhari-hari menyambangi satu persatu keluarga besar STKIP Taman Siswa Bima yang menjadi korban Banjir untuk membantu membersihkan Lumpur dan memberikan 'sumbangan tanggap Darurat', Ketua STKIP TSB Dr Ibnu Khaldun Sudirman, M.Si menginisiasi melakukan DZIKIR, Doa, dan Kerja Bhakti ke Lokasi-lokasi Bencana terparah seperti di Kelurahan Dara.

Berdasarkan hasil observasi dari TIM TAMSIS Peduli korban Banjir Bima, bahwa Kelurahan Dara merupakan salah satu Lokasi terparah Yang dihantam Banjir Bandang. Karena lokasinya yang cukup rendah, maka hampir di semua titik masih digenangi air hingga hari ini dan lumpur nya yang cukup tebal agak sulit untuk dibersihkan secara manual. Dibutuhkan waktu yang agak lama bahkan berminggu-minggu untuk membersihkannya, itupun harus menggunakan alat berat seperti Excavator atau yang lainnya.

Dalam kerja Bhakti ini, Pak Kordinator mengerahkan seluruh Dosen dan Pegawai Tetap Yayasan sebanyak 75 orang lebih untuk membantu korban banjir dalam membersihkan lumpur dan sampah di halaman rumah warga. Pasukan Merah Tamsis Peduli Korban Banjir membawa peralatan seperti mesin Diesel, Cangkul, Skop, Sapu Lidi, dll untuk kelancaran Kerja Bhakti. Seperti biasa, Pasukan merah juga membagikan 200 nasi bungkus kepada warga, terutama warga yang ada di tengah kampung.

Ada cerita yang menyedihkan, Ketika Pasukan Merah Tamsis Peduli Korban Banjir membagikan nasi bungkus pada jam 10.00 pagi tadi, warga mengatakan bahwa mereka belum sarapan. Mereka benar-benar kesulitan untuk mendapatkan air bersih dan sudah beberapa hari tak bisa memasak; mereka hanya bisa berharap kepada para relawan yang membawakan nasi bungkus; kalau relawan terlambat membawakan nasi bungkus, maka merekapun harus bersabar dan harap2 cemas semoga nasi bungkus segera tiba. Mendengar cerita sedih itu, Koordinator berusaha untuk membawakan terus nasi bungkus untuk beberapa hari ke depan buat warga tersebut.

Makna Pengabdian/Kerja Bhakti ini tidak hanya membersihkan lumpur dan sampah, tetapi lebih dari itu kita berempati melihat langsung betapa beratnya beban yang dirasakan oleh para korban Banjir. Kita mendengarkan langsung keluhan mereka, kita melihat langsung betapa hancurnya kehidupan mereka. Kita bisa bayangkan, bagaimana kalau kita sendiri yang mengalami kesusahan hidup seperti yang mereka alami sekarang. Masya Allah, mereka benar2 susah, kami melihat langsung, ada beberapa rumah yang sudah tidak punya apa2 lagi. Tempat tidur hancur dilumuri lumpur, perkakas dapur hanyut dibawa banjir, pakaian sudah tidak ada yang tersisa dan mereka hanya mengharapkan uluran tangan dari para dermawan agar bisa bangkit dan bekerja lagi seperti biasa.

Baca Juga :


Masyarakat Kota memiliki karakter yang berbeda dengan masyarakat desa bahwa kehidupan mereka hanya mengandalkan pasar, geliat perdagangan, aktivitas pelabuhan dan jasa. Apabila keadaannya lumpuh maka lumpuh juga keadaan ekonomi mereka. Mayoritas dari mereka "Ngupa Sidi Toho Sambia" kita bisa bayangkan sudah BEBERAPA HARI MEREKA TAK BEKERJA, berarti sudah beberapa hari juga DAPUR mereka Tak Mengepul. Kondisi inilah yang harus kita Fahami, boleh jadi, Demi mempertahankan hidup, dengan cara apapun mereka tempuh; mudah2an mereka masih bisa memilih cara yang positif. Amin. Oleh Karena itu, Harapan kita kepada PEMERINTAH jangan sepelekan Bantuan TANGGAP DARURAT berapapun jumlahnya.

JADI bantuan tanggap Darurat sebanyak RP 500.000 dari Pemerintah itu penting sekali untuk menyelamatkan kehidupan mereka dan kehidupan kita semua; karena kesusahan mereka adalah kesusahan kita juga; jangan salahkan Revolusi, anarkisme dll karena itu adalah Dampak dari DISEQUILIBRIUM Sosial. Bantuan Rp 20 juta bagi korban banjir yang rumahnya terendam adalah sangat tepat BEGITUpun Bantuan Rp 50 juta bagi yang rumahnya rusak adalah kebijakan yang maha luar biasa. Terima Kasih Pemerintah, bahwa keberadaanmu sungguh bermanfaat. Kita Doakan Semoga Pemerintah kita diberkahi. Amin.

Sumber: Damar damuji () -03



 
KM. Tembe Nggoli

KM. Tembe Nggoli

Tembe Nggoli Community (TNC) Anggota Alamsyah (alamsyah_km@yahoo.com) Hp. 081237986726/ akun pribadi (Alamsyah) Facebook : Alamsyah KM/ twitter : @AlamsyahCS Alamat : Jl Sawo Kel Rabangodu Utara Kec Raba Kota Bima - NTB

Artikel Terkait

0 KOMENTAR

Belum ada komentar.
 
 

TULIS KOMENTAR

Silahkan Login terlebih dahulu untuk mengisi komentar.
 
Copyright 2008 - 2017 | kampung-media.com. All rights reserved.
 
Tutup Iklan