Cari

Tutup Iklan

Dibalik Rezki, Ada Hak Orang Lain

Dibalik Rezki, Ada Hak Orang Lain

“Wahai anak muda! Tidaklah kamu melihat baju lusu ditubuhku? Berjalanku seperti tikus lapar yang mengais air pada ibamu!” (Imam Hamzah dan Trisna Sari dalam

Sosial & Keagamaan

Dibalik Rezki, Ada Hak Orang Lain

Dibalik Rezki, Ada Hak Orang Lain

Dibalik Rezki, Ada Hak Orang Lain

Hamjah Diha
Oleh Hamjah Diha
11 September, 2017 06:15:05
Sosial & Keagamaan
Komentar: 0
Dibaca: 1036 Kali

“Wahai anak muda!

Tidaklah kamu melihat baju lusu ditubuhku?

Berjalanku seperti tikus lapar yang mengais air pada ibamu!”

(Imam Hamzah dan Trisna Sari dalam pusi Perjumpaan Seorang Pengemis)

Sebanjar kalimat di atas, diucapkan oleh sepasang muda–mudi pada saat acara inspiratif expo yang rutin diadakan oleh Dinas Komunikasi, Informatika, dan Statistik (kominfotik) provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) (10/9/2017). Acara tersebut, sengaja dikemas dalam suasana santai, namun mengandung makna yang begitu dalam. Beragam informasi disampaikan. Mulai dari taksi online hingga pengamanan makanan online. Deretan buku serta majalah yang berisikan segudang informasi tentang perkembangan NTB berjejer di atas meja. Buku-buku tersebut siap dibaca oleh khalayak.

Kali ini, inspiratif expo tampil dengan tampilan cara unik serta menarik. Pembawa acara menghadirkan sepasang muda-mudi untuk membacakan puisi. Dihadapan ratusan manusia yang sedang menikmati suasana carefree day itu, pasangan muda–mudi tampil dengan gaya yang sangat sederhana. Compang-camping itulah penampilan mereka. Tidak ada yang mengira bahwa mereka itu akan membacakan puisi di acara tersebut. Di acara yang penuh inspiratif itu, tampillah pasangan anak muda yang berperan sebagai “pengemis”. “tadinya saya kira pengemis, tapi setelah naik di atas panggung saya kaget, ternyata mereka anak muda yang hebat,” ungkap kepala dinas perhubungan provinsi NTB.

Puisi itu tersirat sejuta makna, salah satunya adalah kritikan sosial. Pasangan anak muda itu ingin menyampaikan satu pesan moral kepada khalayak bahwa dibalik rezkimu itu, ada hak orang lain yang harus kita penuhi, yakni hak kaum duafa.

“...Hai anak muda

Bukankah kamu kasihan melihat tanganku menengadah!

Meminta sedikit hakmu untukmu...?” (Imam Hamzah dan Trisna Sari)

Melalui potongan kalimat di atas, pasangan muda-mudi dari teater putih Unram itu mengingatkan kepada khayalak tentang bagaimana seseorang yang menuntut haknya.

Baca Juga :


“...kau lihat aku dengan rasa kasihan

Kau tatap aku ketika tanganku menengadah meminta sedikit harta di kantong celanamu,...”

(Imam Hamzah dan Trisna Sari)

Selain itu, pesan moral yang ingin disampaikan oleh pasangan muda-mudi melalui puisinya tersebut yakni tentang para pejabat publik yang mengumpulkan harta dari uang rakyatnya. Pesan moral itu tersirat pada kalimatnya di bawah ini,

“.... namun kau tidak pernah melihat para petinggi. Para pembual yang membuatmu menjadi sampah seperti diriku!

Kau biarkan mereka membeli kekayaan dengan uangmu.”

(Imam Hamzah dan Trisna Sari)

(Hamjah Diha)



 

Artikel Terkait

0 KOMENTAR

Belum ada komentar.
 
 

TULIS KOMENTAR

Silahkan Login terlebih dahulu untuk mengisi komentar.
 
Copyright © 2008 - 2017 | kampung-media.com. All rights reserved.
 
Tutup Iklan