logoblog

Cari

Tutup Iklan

Pembinaan Kerukunan Antar Umat Beragama di Kalangan Pelajar

Pembinaan Kerukunan Antar Umat Beragama di Kalangan Pelajar

Sumbawa Besar_Bertempat di Aula Kantor Kementerian Agama Kabupaten Sumbawa berlangsung Pembinaan Kerukunan antar umat beragama di kalangan pelajar Senin 13/11/2017 Guna

Sosial & Keagamaan

H.DJOKO PITOYO,S.SOS
Oleh H.DJOKO PITOYO,S.SOS
14 November, 2017 07:24:42
Sosial & Keagamaan
Komentar: 0
Dibaca: 17182 Kali

Sumbawa Besar_Bertempat di Aula Kantor Kementerian Agama Kabupaten Sumbawa berlangsung Pembinaan Kerukunan antar umat beragama di kalangan pelajar Senin 13/11/2017.

Guna memelihara dan menumbuhkan kesadaran akan hakekat keragaman dan perbedaan bangsa Indonesia, Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Kabupaten Sumbawa, NTB memanfaatkan sekolah untuk mensosialisasikan dan menanamkan pengertian membangun kerukunan antar umat beragama sebagai esensi perbedaan keragaman nusantara.

Hadir dalam kegiatan ini, Pengurus FKUB Kabupaten Sumbawa (PHDI, Katolik, Kristen, NU, NW, Muhamadiyah serta para pelajar tingkat SMA / SMK dan Madrasah Aliyah se-Kota Sumbawa Besar yang berjumlah 80 orang masing masing sekolah / Madrasah yang tergabung dalam OSIS (Organisasi Intra Sekolah) dengan menurunkan tim dari pengurus FKUB Kabupaten Sumbawa, Drs.H.Umar Hasan,.

Materi utama Kerukunan Umat Beragama disampaikan oleh Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Sumbawa, Drs.H.Sukri M.Si. Drs. H. Sukrin memberikan pengetahuan khususnya di bidang agama perihal fenomena keberagaman dan pembinaan kerukunan umat beragama di kalangan pelajar yang rawan memicu konflik.

Maka di pandang penting memberikan informasi yang baik kepada generasi muda agar mampu memahami esensi perbedaan sebagai kekayaan peradaban berbangsa dan bernegara.

Di samping Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaetn Sumbawa, hadir pula Kapolres Sumbawa. Kapolres memberikan materi tentang pentingnya memahami hakekat perbedaan sebagai suatu kewajiban azasi bagi warrga negara. Pengetahuan akan keragaman bangsa Indonesia yang demikian kaya harus dijadikan potensi membangun peradaban bangsa itu sendiri, bukan di sikapi secara sempit karena perbedaan sudut pandang dancara. 

Kapolres mengajak pemuda tampil sebagai generasi smart menyikapi fenomena sosial tidak justru terlarut dengan media sosial yang penuh dengan kebebasan berpendapat. Masalah kerukunan beragama tidak gampang dibangun seperti pembangunan fisik dan tidak dapat dihitung secara eksak, namun harus dimulai dari koordinasi mantap dan berkelanjutan karena kerukunan itu akan selalu berubah-ubah, dari rukun berubah menjadi tidak rukun, karenanya kerukunan itu harus dibangun terusmenerus.

 

Baca Juga :


Pembinaan Kerukunan Umat Beragama yang diselenggarakan FKUB sangat tepat sehingga hasilnya dapat ditularkan kepada generasi muda dan dapat diwujudkan. Pernah terjadi masalah disharmoni masalah kerukunan, namun bukan berarti bebas dari inidikasi kearah menciderai hubungan antar agama.

Ketua FKUB Kabupaten Sumbawa mengingatkan kepada  generasi muda agar selalu senantiasa menjadi garda terdepan menjaga misi kerukuan umat beragama dalam menjaga 4 pilar yakni Pancasila, UUD 45, NKRI dan Bhineka Tunggal Ika. Kerukunan itu disatu pihak didambakan semua kalangan, namun di lain pihak kerukunan itu sifatnya dinamis dan selalu berubah, sebagai akibat arus globalisasi yang berpengaruh pada kehidupan baik positif maupun negatif.

Perkembangan iptek membuat pergaulan makin tanpa batas, sehingga norma kehidupan makin tergeser dengan percepatan media komunikasi. Lembaga kerukunan umat, tantangan yang dihadapi tidaklah mudah selain diakibatkan keragaman persepsi dan perilaku umat, juga desakan faktor eksternal yang kerap kali memicu timbulnya gesekan antara elemen umat beragama yang dapat memicu peristiwa berbau SARA. Untuk itu keberadaan FKUB sangat strategis untuk mengurangi dampak riak-riak disharmonisasi dalam konteks kehidupan berbangsa bernegara. Kendati sejauh ini di Kabupaten Sumbawa pernah terjadi pertikaian berbau SARA, menyusul perkembangan secara nasional maupun regional relatif dinamis dan cenderung mengarah pada segi teroris dan anarkis maka FKUB dipandang efektif dapat mengeleminir akses negatif tersebut agar tidak sampai memicu adanya peristiwa lebih jauh.

Di dalam infrastruktur kelembagaan, hendaknya tidak lagi dikenal adanya asumsi mayoritas maupun minoritas, tetapi lebih mendekatkan persatuan atas dasar kebenaran dan cinta kasih, sehingga keharmonisan dalam kehidupan berbangsa bernegara dapat terwujud setiap saat. Di katakan, kebebasan memeluk agama di satu sisi merupakan kebebasan hak azasi manusia tidak dapat di kurangi dalam kondisi apapun, setiap orang bebas memilih agama dan beribadah mesti dijamin oleh negara.

Pemerintah wajib menjamin melindungi setiap usaha penduduk melaksanakan ajaran agama dan ibadah pemeluknya agar berlangsung rukun, lancar dan tertib serta selalu harmoni. Menodai salah satu agama berarti mengganggu ketertiban dan ketenteraman kendati hanya sekedar isu belaka. Masalah seperti itu harus dapat disikapi secara arif dan bijaksana karena jika keliru menyikapi bisa mendatangkan dampak yang kurang baik. Untuk itu diperlukan upaya pemerintah dalam membina umat beragama dilandasi saling pengertian, menghormati menghargai kesetaraan dan pengalaman ajaran agama.___(joko)



 

Artikel Terkait

0 KOMENTAR

Belum ada komentar.
Berikan Komentar Bermanfaat Meski Satu Kalimat
 
 

TULIS KOMENTAR

Silahkan Login terlebih dahulu untuk mengisi komentar.
 
Copyright © 2008 - 2018 | kampung-media.com. All rights reserved.
 
Tutup Iklan