logoblog

Cari

Tutup Iklan

ASIMILASI BUDAYA DI DESA KESIK

ASIMILASI BUDAYA DI DESA KESIK

Asimilasi Budaya Bali dan Lombok Datangnya orang Bali yang beragama Hindhu di Desa Kesik berawal dari ekspansi sekelompok orang yang diketuai

Sosial & Keagamaan

KM Masbagik
Oleh KM Masbagik
15 November, 2017 10:33:11
Sosial & Keagamaan
Komentar: 0
Dibaca: 14957 Kali

Asimilasi Budaya Bali dan Lombok

Datangnya orang Bali yang beragama Hindhu di Desa Kesik berawal dari ekspansi sekelompok orang yang diketuai oleh Jero Ketut Ompong yang berasal dari Bali kemudian pindah ke Cakranegara. Setelah itu, mereka melanjutkan perjalanan menuju Lombok Timur dan akhirnya tiba di Desa Kesik (tepatnya pada masa Anak Agung Bali). Mereka kemudian membuat pemukiman penduduk tepatnya berada di Dusun Timbak sekarang (samping Kantor Desa Kesik), kediaman (alm.) Papuq Saban. Di sanalah kemudian ia membuka usahanya yaitu membuat pande gamelan. Namun seiring dengan berjalannya waktu di Dusun Selimur ada areal tanah yang akan dijual oleh pemiliknya.

Dan setelah dilakukan survey lokasi, Jero Ketut Ompong segera bertindak dan mencari agar lahan tersebut menjadi miliknya. Dengan perjuangan yang sangat gigih akhirnya niatnya untuk mendiami Dusun Selimur tercapai juga. Dan menurut keterangan Keturunannya dialah orang pertama yang menduduki Dusun Selimur ini.

Disanalah ia mengembangkan lagi usaha pande gamelannya. Selain mengembangkan usahanya, ia pun membuat areal sanggarehan yang digunakan untuk sembahyang oleh umat Hindu. Ada 1 bangunan utama dan 3 bangunan kecil disampingnya. Bangunan tersebut menyerupai berugaq namun pada bagian depannya memiliki tembok sebagai tempat maturan. Bangunan tersebut semua bungusnya menghadap ke arah Timur dan Barat. Karena terkenal dengan keterampilannya ini lah yang menjadikan ia sempat menjadi orang terkaya di Desa Kesik bahkan saking banyaknya harta yang ia miliki banyak pula uang ringgitnya ditemukan di jemur di depan halaman rumah.

Seiring dengan berjalannya waktu, dengann masuknya pengaruh dari budaya luar akhirnya ketenaran Ketut Ompong mulai terkikis hingga semua harta yang telah ia peroleh di jual sedikit demi sedikit. Begitu juga denga areal sanggrehan yang digunakan untuk sembahyang tidak luput sebagai warisan yang ia jual. Areal dan bangunan tersebut ia lelang pada pengusaha Keturunan Cina yang bernama Papuq Oden. Akhirnya Ketut Ompong pun meninggal dan jenazahnya dibawa dan di abenkan di Cakrenegara.

Pekerjaannya itu dilanjutkan oleh anaknya yang bernama Komang Pande atau Papuq Empang. Berkat kelihaiannya usaha mande gamelan mulai dilirik kembali oleh banyak warga. Dan ia pun mewarisakannya kepada anaknya yang masih hidup hingga saat ini yang bernama I Nengah Sinta. Namun, belum lama ia belajar mande I Nengah Sinta sempat membuang dirinya ke Cakrenegare karena enggan mau mengikuti jejak ayahandanya yang membuat pande gamelan. Ia rela meninggalkan orang tua karena memang tidak suka dengan pekerjaan itu. Di Cakrenegara ia bekerja serabutan untuk bekerja di rumah keluarga ayahnya.

Tak berselang lama setelah ia meninggalkan orang tuanya, I Nengah Sinta mendapatkan kabar burung tentang kondisi fisik ayahandanya yang kurang baik. Dan tanpa berfikir panjang lagi ia memutuskan untuk segera kembali ke kampung halaman untuk melihat kondisi orang tuanya.  Sesampainya di rumah ia pun berjanji untuk tidak lagi jauh dengannya karena memang orang tuanya sangat membutuhkan kasih saying dari anak-anaknya. Beberapa bulan kemudian ayahandanya pun meninggal dunia, karena keluarga besarnya berada di Cakrenegara akhirnya jenazah almarhum di bawa lagi ke Jangkong untuk diabenkan di sana.

Kini tinggallah Nengah Sinta sebagai pewarisnya, sementara itu pesanan gamelan sangat banyak yang masih belum tuntas. Dan dengan ikhlas dan pasrah ia pun mulai menekuni pekerjaan pande gamelan itu dengan ulet. Ia mencari ilmu dari para pelanggan ayahnya yang dulu sempat membuat peralatan gamelan disana. Dengan modal peninggalan palu bebet seberat tiga kilo, mok dan nencep tak jadi masalah untuk membuatnya terus berkreasi membuat peralatan tersebut. Alhasil, karya-karya dari Bapak Nengah semakin banyak dan berkualitas sangat bagus sehingga luar daerah banyak yang datang mencarinya. Menurut penuturan beliau, berbagai orang datang mulai dari dalam desa hingga dari Bayan, Dayan Gunung bahkan hingga Sumba dan Flores.

 

Baca Juga :


Berkat ketekunannya tersebut, ia menjadi semakin terkenal. Namun seiring dengan berjalannya waktu muncul pula pengusaha pande yang baru di Kuang. Bahkan sempat berhembus kabar berita di kalangan masyarakat luas bahwa Bapak Nengah sudah meninggal dan tidak ada yang melanjutkan usahanya. Hal itu, menjadi moment terpuruk bagi Bapak Nengah karena pemasukan sehari-harinya menjadi tersendat. Namun, ia tetap terus berusaha dan memperlihatkan keahliannya kepada semua orang dan para pelanggannya akhirnya kembali lagi mencarinya.

Munculnya banyak alim ulam di Lombok membuat Bapak Nengah dan keluarganya mulai tertarik untuk memeluk agama Islam. Karena memang dari zaman Buyutnya semua telah beragama Hindu. Pada awalnya Tuan Guru dari Pademarelah yang siap mengislamkannya namun karena masalah satu dan lain hal dan situasi kondisi yang tidak memungkinkan akhirnya Tuan Guru dari Pademare urung datang. Dan berita itu tembus kepada Tuan Guru Lauk yaitu TGH Sibawaihi Mutawalli (alm). Hal itu bahkan langsung ditanggapi dengan positif dan menginginkan agar segera ke Desa Kesik untuk mengislamkan Bapak Nengah dan keluarganya.

Akhirnya tepat pada malam harinya bersama dua orang tangan kanannya yang bernama Guru Umam dan papuq Candra Tuan Guru Lauq (Sebutan untuk Tuan Guru Sibawaihi) datang dan pada lokasi rumah Bapak Nengah yang sekaranglah menjadi saksi bisu berikrarnya keluarga Bapak Nengah untuk memeluk agama Islam. Namun ternyata dari 4 orang saudara kandungnya hanya ia dan adiknya saja yang mau bergabung sementara dua orang lainnya tetap kekeuh untuk memeluk agama Hindu. Dan dua orang saudaranya itu enggan tinggal bersamanya dan lebih memilih untuk tinggal dengan keluarga besarnya di Cakrenegara.

Dan bersama saudaranya ia kembali merintis usahanya dari awal kembali dengan menerima pemesanan pembuatan terompong dan cemprang untuk kesenian gamelan. Dalam 1 hari ia bisa menghasilkan satu jenis barang terompong atau cemperang. Kedua karya tersebut berbahan perunggu yang dicampurkan dengan kawat listrik atau tembaga. Jenis terompong yang ia buat berukuran paling pendek 30 centimeter dengan berat mencapai 1,5 kilo atau 2 kilo. Sedangkan untuk cemprangnya berukuran 30 centimeter dengan berat mencapi 3 kilo. Bahkan tidak jarang ada yang memesan cemprang besar / perembaq dengan ukuran 40 centimeter dengan berat lima sampai delapan kilo.

Adapun cara pembuatannya yaitu dengan proses penubukan perunggu hingga berbentuk kalis atau lembut setelah itu dimasukkan ke dalam kemeq (kendi) kemudian di masak hingga benar-benar meleleh. Setelah semua tercampur barulah di timbun dengan tanah selanjutnya di tumpahkan ke dalam cetakan berbentuk sama dengan makanan serabi. Setelah semua dilakukan barulah proses pembentukan dengan dikerjakan oleh tiga orang buruh. Dan setelah berbentuk cemprang atau terompong barulah proses finishing yang pekerjaannya dilakukan sendiri oleh Bapak Nengah dengan menggunakan mesin kikir dari besi. Kini usahanya masih berjalan hingga sekarang bahkan anak dan cucunya kini membantu melanjutkan pekerjaan tersebut.  Salam toes dari kampung. Kami cinta TAI.

By_Andre D”Jails



 
KM Masbagik

KM Masbagik

Nama: Andre Kurniawan, S. Pd. TTL: Kesik, 01 April 1990. Alamat: Desa Kesik Kecamatan Masbagik. Pekerjaan: Swasta. No. HP: 082340354845. Email: Andrejail17@yahoo.com.

Artikel Terkait

0 KOMENTAR

Belum ada komentar.
Berikan Komentar Bermanfaat Meski Satu Kalimat
 
 

TULIS KOMENTAR

Silahkan Login terlebih dahulu untuk mengisi komentar.
 
Copyright 2008 - 2018 | kampung-media.com. All rights reserved.
 
Tutup Iklan