logoblog

Cari

Tutup Iklan

Masjid: Wajah Kolektif Masyarakat Sasak

Masjid: Wajah Kolektif Masyarakat Sasak

  Ketika menyoal "Sasak" salah satu suku di belahan tengah bumi Nusantara, Islam menjadi satu citra yang dimunculkan. Kelompok masyarakat yang

Sosial & Keagamaan

Galih Suryadmaja
Oleh Galih Suryadmaja
20 Desember, 2017 07:33:47
Sosial & Keagamaan
Komentar: 0
Dibaca: 5450 Kali

Ketika menyoal "Sasak" salah satu suku di belahan tengah bumi Nusantara, Islam menjadi satu citra yang dimunculkan. Kelompok masyarakat yang menempati tanah Lombok ini, mencirikan dirinya dengan nuansa Islami. Bahwa masyarakat Sasak adalah mereka yang memegang teguh ajaran Islam seolah telah menjadi wacana umum dan lazim ketika bertanya siapa itu Sasak. Bagaimana kehidupan mereka seringkali didasari oleh berbagai nilai-nilai dalam ajaran itu. Hal itu kemudian mengalami kristalisasi dalam kehidupan mereka, yang kemudian disebutnya sebagai budaya Sasak. Meski jika ditelusuri secara mendalam dalam setiap bangunan budaya masyarakat Sasak tidak hanya Islam saja hadir di dalamnya. Akan tetapi kuatnya pengaruh Islam dalam kehidupan masyarakat Sasak, menjadi dasar dan seolah mendominasi hadirnya pemahaman itu. Maka tak heran jika dalam memproyeksikan "visi" dalam kehidupannya, Islam masih menampakkan pengaruhnya dalam setiap perjalanan dan perkembangan di daerah. Seperti halnya tampak pada pengembangan industri pariwisata yang berbasis "Syariah" dan munculnya identitas sebagai pulau Seribu Masjid. 

Tidak hanya tampak pada sisi material saja, berbagai balut nuansa Islami juga muncul di berbagai aspek kehidupan masyarakat. Di dalam kehidupan sosial misalnya, masyarakat masih mempertahankan ajaran untuk senantiasa memuliakan tamu yang hadir atau berkunjung. Budaya "ngupi" merupakan wujud  implementasi atas ajaran tersebut, selain juga keberadaan "berugak" di halaman rumah. Pada aspek ekonomi, masyarakat Sasak begitu kuat memahami konsep keberkahan. Bahwa apa yang dikerjakan senantiasa ditujukan untuk mendapati keberkahan. Pada aspek politik seperti halnya saat menjelang pilkada saat ini, banyak sekali jargon-jargon yang bernuansa Islami dibuat untuk menarik simpati masyarakat. Hal-hal semacam ini adalah fakta atas lekatnya kehidupan masyarakat Sasak dengan Islam. Hingga tak mengherankan bahwa banyak berdiri tempat pendidikan formal yang lebih mengedepankan ajaran agama di dalamnya seperti halnya pesantren, RA, MI, MTS, MA, dan lain sebagainya. 

Banyak hal menarik yang dapat dicermati dan dipahami dari setiap realitas kehidupan dan budaya masyarakat Sasak di dalam menggali esensi Islam dalam praktik kehidupannya. Salah satu yang tampak begitu mencolok adalah keberadaan ribuan bangunan masjid yang begitu megah dalam bentang pulau Lombok. Pulau yang cukup kecil jika dibanding dengan luasnya wilayah Nusantara ini, memiliki masjid yang begitu banyak. Hal yang lebih menarik adalah tentang indahnya setiap bangunan masjid yang dibangun oleh masyarakat Sasak. Ketika masyarakat luar menyaksikan realitas ini, sedikit yang terbesit adalah bahwa masyarakat Sasak adalah sekumpulan orang-orang kaya yang memiliki harta berlebih untuk mendirikan bangunan masjid yang megah dan indah. Namun pandangan demikian tentu saja keliru ketika orang mencoba untuk melihat data statistik. Di mana angka kemiskinan masih cukup tinggi, yakni mencapai 16%. Hal ini yang kemudian perlu untuk dicermati ketika melihat kedua fakta tersebut. 

Di dalam kehidupan masyarakat Sasak, masjid merupakan ruang penting. Keberadaannya bukanlah milik seseorang saja, melainkan dimiliki secara kolektif oleh masyarakat di sekitar. Selain sebagai tempat beribadah, masjid juga digunakan sebagai ruang integrasi sosial bagi masyarakat Sasak. Berbagai aktifitas dilakukan di dalamnya seperti halnya pembelajaran agama, perayaan-perayaan, hingga ritual kehidupan layaknya upacara pernikahan dan kematian. Oleh karena hal tersebut di dalam mendirikan masjid, hal itu dilakukan secara kolektif. Di mana mayarakat saling bahu membahu untuk menghadirkan satu bangunan yang layak bagi kehidupan sosial mereka. Konsepsi bahwa masjid adalah "rumah Tuhan" menjadi salah satu dasar kenapa bangunan itu dibuat sedemikian indah dan megah. Sisi imanen masyarakat dalam memahami hal itu salah satunya mendorong mereka untuk sedikit mengabaikan realitas hidup mereka sendiri demi memunculkan satu bangunan. 

 

Baca Juga :


Di dalam mendirikan sebuah masjid, masyarakat Sasak secara benar telah memahami bahwa dirinya adalah rupa makhluk sosial. Makhluk yang saling berdampingan untuk saling menguatkan, membantu, dan mengisi antara satu dengan lainnya. Untuk mewujudkan tujuan bersama dalam hal ini adalah masjid, mereka saling menunjukkan tentang apa yang dapat diperbuatnya. Bagi mereka yang memiliki harta lebih seringkali menopak kebutuhan dana, kebutuhan tenaga pun dipenuhi oleh masyarakat yang merasa mampu akan tetapi kurang secara ekonomi. Berbagai pemikiran disumbangkan oleh kelompok masyarakat yang memiliki ide atau gagasan dalam mempermudah pembangunan yang akan dilaksanakan. Beberapa hal itu adalah fakta sederhana atas munculnya bangunan masjid yang megah dan indah. Ini menjelaskan tentang bagaimana suatu tujuan yang sejatinya cukup berat untuk dicapai, akan tetapo dengan mudahnya dapat diwujudkan dan dilakukan dengan kolektifitas.  Bagaimana dengan mempersatukan sumber daya yang ada dari setiap elemen masyarakat, sebuah tujuan itu dapat dicapai. Tanpa disadari sesungguhnya begitu banyaknya bangunan masjid di pulau Lombok ini adalah simbol-simbol atas penyatuan dan persatuan dari ragam dan realitas hidup masyarakat Sasak.

Di dalam menatap masa depan, masjid tentu saja dapat menjadi satu monumen untuk direfleksi keberadaannya. Adalah untuk mewujudkan berbagai tujuan hidup bersama masyarakat. Bahwa kolektifitas itu tidak hanya diimplementasikan untuk membangun masjid semata. Melainkan juga dapat digunakan untuk membangun berbagai aspek kehidupan masyarakat. Tidak menutup kemungkinan jika hal itu terwujud, Lombok ini dapat mewujudkan berbagai visinya dengan begitu mudah.



 

Artikel Terkait

0 KOMENTAR

Belum ada komentar.
Berikan Komentar Bermanfaat Meski Satu Kalimat
 
 

TULIS KOMENTAR

Silahkan Login terlebih dahulu untuk mengisi komentar.
 
Copyright 2008 - 2018 | kampung-media.com. All rights reserved.
 
Tutup Iklan