logoblog

Cari

Tutup Iklan

Mengenal Islam Lombok Lewat Kampung Muslim Wetu Telu

Mengenal Islam Lombok Lewat Kampung Muslim Wetu Telu

Pulau seribu masjid menjadi julukan yang tepat untuk Pulau Lombok, Nus Tenggara Barat (NTB). Karena itu, tak salah Kementrian Pariwisata mendorong

Sosial & Keagamaan

Zulyadain Rever
Oleh Zulyadain Rever
16 Mei, 2018 11:31:19
Sosial & Keagamaan
Komentar: 3
Dibaca: 12325 Kali

Pulau seribu masjid menjadi julukan yang tepat untuk Pulau Lombok, Nus Tenggara Barat (NTB). Karena itu, tak salah Kementrian Pariwisata mendorong Lombok jadi role model destinasi pariwisata halal nasional. Selain wisata alamnya yang eksotis, Lombok juga terkenal dengan wisata religi, seperti Kampung Muslim Wetu Telu. Tidak hanya untuk menikmati alam dan bertemu langsung dengan masyarakat lokal yang merupakan warga suku sasak, di perkampungan muslim ini, para turis juga bisa mengenal Islam di Lombok.

Awalnya, Islam masuk ke wilayah Lombok pertama kali melalui para wali dari pulau Jawa, yakni Sunan Prapen sekitar abad 16 M. Setelah runtuhnya kerajaan Majapahit. Saat Kerajaan Lombok dipimpin oleh Prabu Rangkesari (Pangeran Prapen), putra Sunan Ratu Giri datang mengislamkan kerajaan Lombok. Pengislaman tersebut merupakan upaya dari Raden Paku atau Sunan Ratu Giri dari Gresik yang memerintahkan raja-raja Jawa Timur dan Palembang untuk menyebarkan Islam ke berbagai wilayah di Nusantara. Adapun, Wetu Telu (bahasa Indonesia:Waktu Tiga) adalah praktik unik sebagian masyarakat suku Sasak yang mendiami pulau Lombok dalam menjalankan agama Islam.

Banyak sumber megatakan bahwa praktik unik ini terjadi karena para penyebar Islam pada masa lampau, yang berusaha mengenalkan Islam ke masyarakat Sasak pada waktu itu secara bertahap Saat ini para penganut Wetu Telu sudah sangat berkurang, dan hanya terbatas pada generasi-generasi tua di daerah tertentu, sebagai akibat gencarnya para pendakwah Islam dalam usahanya meluruskan praktek tersebut.

Sejarah

Sebelum masuknya Islam, masyarakat yang mendiami pulau Lombok berturut-turut menganut kepercayaan animisme, dinamisme kemudian Hindu. Islam pertama kali masuk melalui para wali dari pulau Jawa yakni sunan Prapen pada sekitar abad XVI. Setelah runtuhnya kerajaan Majapahit. Bahasa pengantar yang digunakan para penyebar tersebut adalah bahasa Jawa Kuno.

Dalam menyampaikan ajaran Islam, para wali tersebut tidak serta merta menghilangkan kebiasaan lama masyarakat yang masih menganut kepercayaan lamanya. Bahkan terjadi akulturasi antara Islam dengan budaya masyarakat setempat, karena para penyebar tersebut memanfaatkan adat-istiadat setempat untuk mempermudah penyampaian Islam. Kitab-kitab ajaran agama pada masa itu ditulis ulang dalam bahasa Jawa Kuno. Bahkan syahadat bagi para penganut Wetu Telu dilengkapi dengan kalimat dalam bahasa Jawa Kuno.

Pada masa itu, yang diwajibkan untuk melakukan peribadatan adalah para pemangku adat atau kiai saja. Dalam disampaikan dugaan bahwa praktik tersebut bertahan karena para wali yang menyebarkan Islam pertama kali tersebut, tidak sempat menyelesaikan ajarannya, sehingga masyarakat waktu itu terjebak pada masa peralihan. Para murid yang ditinggalkan tidak memiliki keberanian untuk mengubah praktik pada masa peralihan tersebut ke arah praktik Islam yang lengkap.

Hal itulah salah satu penyebab masih dapat ditemukannya penganut Wetu Telu pada masa modern. Dalam masyarakat lombok yang awam menyebut kepercayaan ini dengan sebutan "Waktu Telu" sebagai akulturasi dari ajaran islam dan sisa kepercayaan lama yakni animisme, dinamisme, dan kerpercayaan Hindu. Selain itu karena penganut kepercayaan ini tidak menjalankan peribadatan seperti agama Islam pada umumnya (dikenal dengan sebutan "Waktu Lima" karena menjalankan kewajiban salat Lima Waktu). Tapi, yang wajib menjalankan ibadah-ibadah tersebut hanyalah orang-orang tertentu seperti kiai atau pemangku adat (Sebutan untuk pewaris adat istiadat nenek moyang).

 

Baca Juga :


Kegiatan apapun yang berhubungan dengan daur hidup (kematian,kelahiran,penyembelihan hewan,selamatan dsb) harus diketahui oleh kiai atau pemangku adat dan mereka harus mendapat bagian dari upacara-upacara tersebut sebagai ucapan terima kasih dari tuan rumah.

Lokasi

Daerah yang terkenal dengan praktik Wetu Telu di Lombok adalah daerah Bayan, yang terletak di Kabupaten Lombok Utara. Pada lokasi ini masih dapat ditemukan masjid yang digunakan oleh para penganut Wetu Telu. Ada juga sebuah tempat yang digunakan oleh umat berbagai agama untuk berdoa. Namanya "Kemaliq" yang artinya tabu, suci dan sakral yang terletak di desa Lingsar, Kabupaten Lombok Barat. Kampung ini setiap tahun mengadakan sebuah upacara adat yang bernama "Upacara Pujawali Dan Perang Topat" sebagai wujud rasa syukur atas hujan yang diberikan Allah SWT. pada umat manusia.

Upacara Adat

Selain itu, Kampung Muslim Wetu Elu ini juga masih menjalankan berbagai upacara adat setempat yang tak jarang juga menjadi pilihan wisata budaya bagi para turis lokal maupun asing. Menurut publiaksi WonderfulLombok, banyak bentuk ritual yang dihayati dan dijalankan oleh komunitas Islam Wetu Telu, di antaranya: Perayaan Hari Besar Islam bukan hanya dilakukan oleh masyarakat Islam dari kalangan Ahlussunnah Wal Jamaah, akan tetapi Perayaan Hari Besar Islam dilaksanakan secara rutin oleh masyarakat Islam Wetu Telu.

Perayaan-perayaan tersebut dilakukan untuk mengenang kembali dan mengambil nilai-nilai yang positif. Adapun bentuk-bentuk uopacara Islam Wetu Telu seperti: Roah Wulan dilaksanakan pada bulan Sya’ban, Selamatan Qunut dilaksanakan pada bulan Ramadhan, Maleman Likuran dilaksanakan pada bulan Ramadhan, Malaman Fitrah dilaksanakan pada bulan Ramadhan, Lebaran Topat dilaksanakan pada bulan Syawal, Qulhu Sataq dilaksanakan pada bulan Syawal, Selamatan Bubur Putiq dilaksanakan pada bulan Syafar, Selamatan Bubur Abang dilaksanakan pada bulan Syafar, Ngangkat Syare’at Maulud dilaksanakan pada bulan Rabiul Awal, dan Teq Berat Isra’ Mikraj dilaksanakan pada bulan Rajab. Inilah seri terakhir dari Wisata Halal Lombok di kanal Safari-Destinasi. []



 

Artikel Terkait

3 KOMENTAR

  1. Zulyadain Rever

    Zulyadain Rever

    21 Mei, 2018

    siip


  • KM JONG CELEBES

    KM JONG CELEBES

    21 Mei, 2018

    Ayo nulis Lagi.......


  • ANDI MULYAN

    ANDI MULYAN

    17 Mei, 2018

    Mantap.......


  •  
     

    TULIS KOMENTAR

    Silahkan Login terlebih dahulu untuk mengisi komentar.
     
    Copyright 2008 - 2018 | kampung-media.com. All rights reserved.
     
    Tutup Iklan