logoblog

Cari

Tutup Iklan

Asal-usul Gelar Haji Yang Digunakan di Indonesia

Asal-usul Gelar Haji Yang Digunakan di Indonesia

KM_Setiap orang yang pernah mengunjungi Ka’bah di Kota Mekkah dengan niat menunaikan ibadah haji, maka secara otomatis di depan nama yang

Sosial & Keagamaan

Nurrosyidah Yusuf
Oleh Nurrosyidah Yusuf
19 Mei, 2018 15:49:21
Sosial & Keagamaan
Komentar: 0
Dibaca: 2720 Kali

KM_Setiap orang yang pernah mengunjungi Ka’bah di Kota Mekkah dengan niat menunaikan ibadah haji, maka secara otomatis di depan nama yang bersangkutan akan disematkan gelar haji untuk laki-laki dan gelar hajjah untuk perempuan. Uniknya, gelar tambahan haji atau hajjah hanya terjadi di Indonesia. Di Arab Saudi maupun negara belahan dunia manapun, ketika seseorang pulang menunaikan ibadah haji tidak ada yang menambahkan gelar tersebut di depan nama mereka. Lalu bagaimana sejarahnya gelar tambahan “Haji” dan “Hajjah” bisa muncul di Indonesia?

Jika dilihat dari segi kebahasaan, haji memiliki makna menziarahi atau mengunjungi. Oleh karena itu, istilah ini digunakan untuk orang-orang yang akan menunaikan ibadah haji, bukan untuk mereka yang telah selesai menunaikan ibadah haji. Maka ketika seseorang pulang dari menunaikan ibadah haji, sebenarnya sematan haji bagi dirinya sudah tuntas karena tidak lagi dalam proses berziarah.

Namun, di Indonesia gelar haji dan hajjah masih tetap melekat. Orang-orang yang telah selesai melaksanakan ibadah haji mendapat gelar tambahan haji untuk laki-laki dan hajjah untuk perempuan di depan namanya. Akan tetapi, sebagian orang memandang hal tersebut tidak baik, karena bisa menimbulkan sikap riya’, pamer, sehingga bisa merusak nilai ibadahnya di hadapan Allah SWT. Sebagian lainnya beralasan pemakaian gelar haji/hajjah untuk mengingat susahnya menempuh perjalanan pulang pergi dari Indonesia ke Kota Mekkah. Makanya dipakailah gelar haji/hajjah sebagai tanda perjuangan untuk menunaikan ibadah.       

Berdasarkan keterangan Agus Sunyoto, Arkeolog Islam Nusantara menyatakan bahwa gelar haji mulai muncul sejak tahun 1916. Jika dilihat dari asal usulnya, gelar haji sebenarnya merupakan pemberian Kolonial Belanda. Dahulu di zaman penjajahan Belanda, Belanda sangat membatasi gerak-gerik umat muslim dalam berdakwah, segala sesuatu yang berhubungan dengan penyebaran agama terlebih dahulu harus mendapatkan izin dari pihak pemerintahan Belanda. Belanda sangat khawatir apabila nanti timbul rasa persaudaraan dan persatuan di kalangan rakyat pribumi. Sehingga akan menimbulkan  pemberontakkan. Oleh karena itu, segala jenis peribadatan sangat dibatasi. Pembatasan ini juga diberlakukan terhadap ibadah haji. Bahkan untuk yang satu ini Belanda sangat berhati-hati, karena pada saat itu mayoritas orang yang pergi menunaikan ibadah haji, ketika pulang kembali ke tanah air maka yang bersangkutan akan melakukan perubahan. 

Hal ini bisa dilihat, pada zaman pendudukan Belanda, sudah banyak pahlawan Indonesia yang menunaikan ibadah haji, seperti Pangeran Diponegoro, HOS Cokroaminoto, Ki Hajar Dewantara dan masih banyak yang lainnya. Kepulangan mereka dari menunaikan ibadah haji banyak membawa perubahan untuk Indonesia, tentunya perubahan ke arah yang lebih baik. Contohnya Pangeran Diponegoro yang pergi haji dan ketika pulang melakukan perlawanan terhadap Belanda. Imam Bonjol yang pergi haji dan ketika pulang melakukan perlawanan terhadap Belanda dengan pasukan Paderi-nya. Begitu pun halnya HOS Cokroaminoto. Sepulang dari menunaikan ibadah haji beliau mendirikan Sarekat Islam. Ki Hajar Dewantara yang berjuang dalam dunia pendidikan. Muhammad Darwis yang pergi haji dan ketika pulang mendirikan Muhammadiyah. Hasyim Asy’ari yang pergi haji, kemudian mendirikan Nadhlatul Ulama. Begitu juga Samanhudi yang pergi haji dan kemudian mendirikan Sarekat Dagang Islam. Hal ini dapat terjadi karena saat mereka di Tanah Suci kemudian bertemu dan bertukar pikiran dengan jama’ah haji dari negara-negara Islam lainnya.

Hal-hal seperti ini merisaukan pihak Belanda. Maka salah satu upaya Belanda untuk mengawasi dan memantau aktivitas serta gerak-gerik ulama-ulama ini adalah dengan mengharuskan penambahan gelar haji di depan nama orang yang telah menunaikan ibadah haji dan kembali ke Tanah Air. Ketentuan ini diatur dalam Peraturan Pemerintahan Belanda Staatsblad Tahun 1903. Pemerintahan Kolonial Belanda pun mengkhususkan Pulau Onrust dan Pulau Kayangan  (Sekarang Pulau Cipir) di Kepulauan Seribu (Sekarang termasuk wilayah DKI Jakarta) menjadi gerbang utama jalur lalu lintas perhajian di Indonesia.  

 

Baca Juga :


Di Pulau Onrust dan Pulau Kayangan  (Sekarang Pulau Cipir) di Kepulauan Seribu, orang-orang yang pulang dari menunaikan ibadah haji banyak yang dikarantina. Ada yang memang dirawat dan diobati dikarenakan sakit akibat jauhnya perjalanan naik kapal laut. Ada juga yang disuntik mati kalau dipandang mencurigakan oleh pihak Belanda. Nama-namanya akan dicatat dan dibuat daftar. Selanjutnya akan dipulangkan ke kampung halamannya. Oleh sebab itu, gelar haji menjadi semacam cap yang memudahkan Pemerintah Hindia Belanda untuk mengawasi orang-orang yang dipulangkan ke kampung halamannya sehingga memudahkan Pemerintahan Kolonial Belanda untuk mencari orang tersebut apabila terjadi pemberontakkan.

Hingga saat ini, kebiasaan penambahan gelar H dan Hj di depan nama orang-orang yang telah menunaikan ibadah haji ke Tanah Suci pada akhirnya menjadi turun temurun dan dijadikan gelar yang memiliki nilai prestisius tersendiri di mata masyarakat. Orang-orang yang ada gelar tambahan haji/hajjah di depan nama dipandang sebagai  orang yang mampu berangkat ke Tanah Suci yang berarti orang-orang yang memiliki materi lebih dibanding yang lain. Jika ada orang yang tidak mencantumkan gelar haji atau hajjah di depan nama yang bersangkutan atau menyapanya tanpa ada tambahan gelar haji atau hajjah, yang bersangkutan biasanya akan marah dan tersinggung.   

Jika dilihat dari asal usul penambahan gelar haji/hajjah di depan nama dengan simbol huruf H, maka gelar tersebut bukanlah simbol agama tapi merupakan pemberian Kolonial Belanda. Oleh karena itu tidak sepantasnya kita membanggakan status dan gelar, karena itu semua sama sekali tidak berarti di hadapan Allah SWT. Justru gelar tambahan haji/hajjah di depan nama tersebut dapat dijadikan sebagai pengingat agar dapat menjaga sikap dan perilaku, bukan untuk menyombongkan diri dan bermegah-megahan. Wallahu ’alam bishowab.   (NR: Google/dari berbagai sumber).        

 



 
Nurrosyidah Yusuf

Nurrosyidah Yusuf

Nurrosyidah Yusuf. Alamat: Jl. Seruni No.14 Lingkungan Saleko Kel. Sarae Kec. RasanaE Barat Kota Bima NTB. Email: rosyinurosyidah@yahoo.com. Facebook: Rosyi Nur Rosyidah. Twitter: @RoseNurrosyidah

Artikel Terkait

0 KOMENTAR

Belum ada komentar.
Berikan Komentar Bermanfaat Meski Satu Kalimat
 
 

TULIS KOMENTAR

Silahkan Login terlebih dahulu untuk mengisi komentar.
 
Copyright 2008 - 2018 | kampung-media.com. All rights reserved.
 
Tutup Iklan