logoblog

Cari

Spiritual Berhaji Ala Suku Sasak

Spiritual Berhaji Ala Suku Sasak

Kendati berlangsung secara rutin setiap tahun, ritual ibadah haji tetap memiliki makna yang amat besar bagi mereka yang melaksanakannya. Berbeda dengan

Sosial & Keagamaan

Spiritual Berhaji Ala Suku Sasak


Pangkat Ali
Oleh Pangkat Ali
27 Desember, 2018 12:25:53
Sosial & Keagamaan
Komentar: 0
Dibaca: 2924 Kali

Kendati berlangsung secara rutin setiap tahun, ritual ibadah haji tetap memiliki makna yang amat besar bagi mereka yang melaksanakannya. Berbeda dengan orang Batak yang umumnya bersifat lugas, rasional dan senang mempertanyakan apa saja secara kritis, termasuk dalam urusan ibadah haji.

Berbeda dengan orang Sasak yang cenderung senang pada dunia kebatinan, dimana ibadah haji didekati dengan olah rasa, kadang-kadang disertai mistis. Dari tinjauan filsafat tasauf, pergi haji bukanlah sembarang bepergian. Suasana haji adalah wilayah fisik dan batin yang menghubungkan antara realitas dunia dan kesadaran akhirat, antara temporalitas usia manusia dan keabadian jiwa setelah mati. Oleh karerna itu, ibadah haji bagi masyarakat Sasak merupakan perjalanan eksitensial.

Yang paling mendorong dalam perjalanan ibadah haji, bukannya bepergian ke Baitullah di Makkah, melainkan suatu inner journey atau spiritual journey untuk mencari Tuhan melalui labirin hati. Dalam istilah tasauf, hakekat Baitullah (rumah Tuhan) bukannya yang berupa bangunan fisik Ka’bah, akan tetapi hati seorang mukmin yang di dalamnya sudah bersih dari berbagai berhala dunia. Hal ini secara cerdas telah diilustrasikan oleh sejarah Ka’bah itu sendiri. Sebelum Rasulullah Muhammad memulai da’wahnya, bangunan Ka’bah dikelilingi oleh ratusan berhala, sebanyak 365 buah, sebagai simbul dan obyek sesembahan dari berbagai suku yang ada. Oleh Rasulullah, semua berhala disingkirkan, sehingga tinggal hanya Ka’bah.

Cerita ini mengilustrasikan, betapa manusia sepanjang tahun lebih dekat dengan dan mudah tergoda oleh berhala, yaitu mengejar kenikmatan dunia. Secara fisik, bangunan Ka’bah sangat sederhana, sebentuk kubus berwarna hitam, yang di dalamnya tidak berisi apa-apa. Ini bisa ditafsirkan, sesungguhnya pergi ke Baitullah, adalah perjalanan menerobos ceruk-ceruk jiwa. Seorang akan sukses bertemu Tuhan kalau sudah bisa memasuki tahap kekosongan. Disana tidak ada lagi berhala, tak ada wujud apapun atau siapapun kecuali eksitensi ke Tuhanan. Makanya, lafal talbiyah berbunyi, “La syarikalahu”, tak ada lampiran dan obyek pujaan kecuali hanya Dia. Ibadah yang merupakan rukun kelima bagi setiap muslim yang mampu, di kalangan orang Sasak menjadi tujuan utamanya dalam hidup.

Dalam mengungkapkan rasa syukurnya, setiap calon jemaah haji menyelenggarakan semacam open house dan doa selamat selama sebulan penuh. Sebagai tanda bila seseorang akan memulai open house, dilakukan selamatan yang disebut pembukaan ziarah (buka ziarah haji). Untuk memastikan bahwa, kerabat dan handai taulan mengetahui alamat rumahnya, maka di depan pintu halaman rumah atau di ujung gang, akan dipasang penanda mirip “gapura” dengan tulisan; SELAMAT MENUNAIKAN IBADAH HAJI, SEMOGA MENDAPAT HAJI YANG BABRUR. Dalam tulisan itu, berbaur pula dengan photo si calon haji yang sering disingkat CJH

Ada pandangan minor dari “pemeluk” budaya lain terhadap cara orang Sasak memasang penanda sebagai mana di atas, yaitu dianggap sebagai perbuatan riak. Tetapi, agaknya pandangan itu berlebihan. Tujuan memasang penanda sangat simpel, sebagai isyarat open house, menerima kerabat, tetangga dan sahabat yang datang untuk keperluan yang sangat jelas seperti memberikan ucapan selamat, disertai harapan bagi yang belum haji, supaya “tertular” untuk dapat naik haji di tahun-tahun mendatang, juga untuk saling memaafkan satu sama lain. Karena perjalanan spiritual ini, pada zaman dahulu, merupakan perjalanan panjang dan melelahkan, sehingga acapkali dipandang sebagai perjalanan untuk pergi mati. Betapa tidak, perjalanan haji yang dilakukan pada abad 19, menggunakan kapal laut, sehingga membutuhkan waktu berbulan-bulan, bahkan bertahun-tahun. Sehingga seringkali harus singgah dan bercocok tanam terlebih dahulu pada daerah lain.

 

Baca Juga :


Rute perjalanan haji dahulu, harus melewati Aceh. Di situlah persinggahan terakhir rombongan haji Indonesia sebelum bertolak keluar Nusantara, sehingga Aceh dujuluki sebagai “Serambi Mekkah”. Kemudian rombongan akan menuju Srilangka, melewati ganasnya ombak laut Honduras disertai ancaman perompak dan bajak lauk.

Sekarang, perjalanan haji lebih singkat dan nyaman. Dari Bandara LIA-Lombok International Airport (dulu BIL-Bandara Internasional Lombok)-Surabaya atau Jakarta, diperlukan waktu hanya sekitar 10-12 jam saja melayang-layang di dalam kabin pesawat jet berhawa sejuk. Tetapi tradisi melepas dan menyambut jamaah haji yang pergi dan kembali, tetap berlangsung di kalangan orang Sasak zaman now sekalipun.

Setelah kembali, sang haji didatangi untuk mengucapkan selamat. Berbagi cerita dan kadang berbagi oleh-oleh. Biasanya air zam-zam atau kurma, atau barang-barang lain yang sebenarnya buatan Indonesia dan dapat dibeli di banyak kota di Indonesia.



 
Pangkat Ali

Pangkat Ali

Save Our Gumi Paer...LOMBOK Lalu Pangkat Ali, kesehariannya sebagai ASN -Pejabat Fungsional Pranata Humas Permkab.Lobar. Tinggal di Desa Kopang-Lombok Tengah. CP & WA: 081907941070. Fb: Fotografer Kopang & Eliza Agniya

Artikel Terkait

0 KOMENTAR

Belum ada komentar.
Berikan Komentar Bermanfaat Meski Satu Kalimat
 
 

TULIS KOMENTAR

Silahkan Login terlebih dahulu untuk mengisi komentar.
 
Copyright © 2008-2019 | kampung-media.com. All rights reserved.
 
Tutup Iklan