logoblog

Cari

Halal Bihalal Konsep Pemersatu Umat Beragama 

Halal Bihalal Konsep Pemersatu Umat Beragama 

Silaturahmi yang dikemas dalam konsep Halal Bihalal merupakan tradisi khas masyarakat Indonesia. Memanfaatkan momen lebaran untuk saling memaafkan antar sesama, tradisi

Sosial & Keagamaan

Suparman
Oleh Suparman
13 Juni, 2019 16:29:17
Sosial & Keagamaan
Komentar: 0
Dibaca: 3009 Kali

Silaturahmi yang dikemas dalam konsep Halal Bihalal merupakan tradisi khas masyarakat Indonesia. Memanfaatkan momen lebaran untuk saling memaafkan antar sesama, tradisi ini lestari begitu pula dalam kehidupan masyarakat Provinsi Nusa Tenggara Barat.

Bersilaturahmi dan saling memaafkan pada Hari Raya Idul Fitri merupakan tradisi yang dinanti-nanti setelah sebulan penuh umat Islam berpuasa Ramadan. Momen Lebaran membawa setiap orang untuk saling bertemu dalam suasana hangat untuk meminta maaf atas kesalahan yang sengaja diperbuat maupun tidak sengaja, baik lisan maupun perbuatan, baik lahir maupun batin. Penerima maaf pun akan memberikan maaf dengan sukarela dengan suasana hati yang gembira.

Karena itu, Idul Fitri merupakan rekonsiliasi masif dan massal yang menciptakan suasana tenteram dan akrab di tengah masyarakat. Tradisi ini bukan hanya dapat dimaknai sebagai peristiwa teologis, tapi juga fenomena budaya yang dimiliki oleh masyarakat Indonesia. Konsep Halal Bihalal ternyata mampu menyatukan relasi sosial dengan terciptanya kerukunan umat beragama di NTB.

Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) NTB, Prof. H. Saiful Muslim mengungkapkan bahwa konsep ini memiliki nilai kesatuan yang berjasa bagi bangsa ini, kebanyakan masyarakat tidak menyadari bahwa telah terbentuk nilai luhur selama tradisi ini menyatu dalam kehidupan masyarakat. Dalam teori memaafkan saat hari Raya Idul Fitri tiba, umat muslim dunia melakukan hal yang sama. Namun, dalam prakteknya mayoritas muslim Indonesia memperkaya dengan beragam tradisi guna menciptakan kesatuan umat beragama. 

“Kita bersyukur bahwa kita tetap satu, memiliki tugas yang sama antar umat beragama. Hahal Bihalal yang diselenggarakan pagi ini. Tidak hanya dilakukan oleh komunitas umat Islam saja, Umat Hindu, Budha dan Kristen juga ikut bergembira riah dalam kesatuan menyambut momen hari raya Idul Fitri ini,” jelas Saiful Muslim saat mengahdiri acara halal bihalal Aula BPOM NTB, Mataram (13/6).

Kegiatan Halal Bihalal tidak hanya terjadi antara masyarakat dari rumah ke rumah. Namun konsep silaturahmi menyebar sayap di setiap kantor pemerintahan maupun swasta. Ini menunjukan kebersamaan dalam memantapkan kerukunan antara umat beragama. Sehingga tidak ada jarak anatara pimpinan dengan bawahannya dan jarak antara staf dengan yang lain. Walaupun berbeda aliran, agama, kelompok dan budaya tapi tetap dalam kebersamaan yang satu. Sehingga rasa kesatuan dan kesatuan terjalin dalam konsep saling memaafkan yang disebut dengan “Halal Bihalal”.
Profesor juga mewakili tokoh muslim di FKUB menjelaskan, Umat Muslim dan Non Muslim Saling tegur sapa, bersilaturahmi dan saling memaafkan semakin mewarnai suasana tentram walaupun berbeda keyakinan. Membuktikan bahwa konsep ini memiliki kesakralan untuk memperindah suasana kerukunan beragam keyakinan di NTB. Misalkan, dihari pertama idul fitri, Sekitar 200 orang tamu dari beragam agama yang tergabung dalam FKUB bertamu ke rumah dan saling memaafkan dan masin-masing membawa umatnya kepada ketua-ketua majelis. 

“Ini yang perlu kita syukuri, belum tentu di daerah lain tercipta suasana kesatuan seperti ini.  dan ini harus kita jaga demi NTB yang tercinta,” harapnya. 

 

Baca Juga :


Harapnya, kesatuan ini tetap dibangun dan dibina suapaya daerah NTB menjadi daerah dengan kesatuan keberagamaan dan multikultur yang beragam tanpa rasis. Begitu juga dengan kegiatan-kegiatan keagaman lain, hubungan tetap terjalin ketika silaturahmi tetap dibangun anatara umat beragama. 

Sementara itu Kepala BPOM NTB, Ni Gusti Ayu Nengah Suarningsih mengatakan, kegiatan halal bihalal ini merupakan upaya untuk saling bermaafan antara sesama umat manusia, juga sebagai sarana untuk memperet tali silahturahmi dan  memperkuat persaudaraan. Sehingga tercipta suasana harmonis dan damai.

“Dalam suasana damai, kita bisa melaksanakan tugas-tugas dengan baik dan jernih serta berkualitas. Sehingga apa yang kita kerjakan menghasilkan sesuatu yang bermanfaat bagi masyarakat umum,” katanya. 

Sebagai tuan rumah kegiatan, Gusti Ayu Nengah berharap, setelah melewati bulan Suci Ramadhan dengan keberkahannya serta merayakan Idul Fitri dengan beragam tradisi yang ada. Saat ini dan ke depannya, kesatuan umat beragama di NTB menjadi tujuan bersama untuk dilindungi dan menjaga perbedaan dalam kesatuan. (Man-Tim Media)



 
Suparman

Suparman

nama Suparman, biasa di panggil Man. lahir di desa O,o Kec. Dompu, Kab. Dompu pada Tanggal 12 Februari 1992. anak pertama dari enam saudara. saya lahir dari pasangan Bapak A. Talib dengan Ny. Uniriyah. No HP 085337689025

Artikel Terkait

0 KOMENTAR

Belum ada komentar.
Berikan Komentar Bermanfaat Meski Satu Kalimat
 
 

TULIS KOMENTAR

Silahkan Login terlebih dahulu untuk mengisi komentar.
 
Copyright © 2008-2019 | kampung-media.com. All rights reserved.
 
Tutup Iklan