logoblog

Cari

Batasi Penggunaan Gawai Pada Anak Melalui Jam Main Kita

Batasi Penggunaan Gawai Pada Anak Melalui Jam Main Kita

Teknologi dewasa ini telah menjadi bagian dan gaya hidup masyarakat. Hampir semua remaja bahkan anak- anak tidak bisa lepas dari ponsel,

Sosial & Keagamaan

Lulu walmarjan
Oleh Lulu walmarjan
19 Juli, 2019 14:52:03
Sosial & Keagamaan
Komentar: 0
Dibaca: 612 Kali

Teknologi dewasa ini telah menjadi bagian dan gaya hidup masyarakat. Hampir semua remaja bahkan anak- anak tidak bisa lepas dari ponsel, gawai atau alat elektronik lainnya. Selain sebagai alat komunikasi, gawai memang telah menjelma menjadi alat hiburan, sosialisasi dan sumber informasi lainnya. 

Untuk mencegah generasi muda semakin ketergantungan terhadap gawai tersebut, Lembaga Perlindungan Anak (LPA) NTB bekerjasama dengan PT Johnson & Johnson menginisiasi gerakan Jam Main Kita pada momentum Hari Anak Nasional (HANI) 2019 yang diperingati pada Kamis (18/07/19) kemarin.

Kegiatan yang dihadiri ribuan anak- anak dari forum anak seluruh wilayah NTB ini, menjadi salah satu upaya membatasi penggunaan gawai dengan mengajak anak- anak bermain bersama. Berbagai permainan tradisional seperti gobak sodor, ogor ban, engklek serta permainan tradisional lainnya diperkenalkan kepada anak- anak. Anak- anak diminta menghabiskan waktu untuk bermain permainan yang disenangi, sehingga bisa sedikit melupakan gawai.

Ketua LPA NTB Sahan menerangkan, kegiatan tersebut bertujuan menumbuhkan peran serta kepedulian dan kesadaran pemerintah, individu, keluarga, masyarakat dan seluruh elemen lainnya dalam menciptakan lingkungan yang berkualitas bagi anak. ‘’Ini sebagai bentuk perhatian kita dalam memberikan ruang bagi anak serta membangun karakternya,’’ katanya.
 
Jam main kita ini merupakan gerakan Nasional yang diprakarsai PT Johnson & Johnson bekerjasama dengan LPAI dan dilaunching oleh Presiden RI Joko Widodo, dalam momentum puncak Hari Pendidikan Nasional (HARDIKNAS) pada tahun 2018 lalu di Istana Negara Jakarta. Di NTB sendiri gerakan tersebut merupakan yang pertama dan akan di adopsi ke sejumlah sekolah- sekolah di NTB sehingga tidak hanya sebagai kegiatan seremonial semata. 

Direktur country leader of communication and public affair PT Johnson and Johnson, Deviane mengatakan, berdasarkan data World Health Organization (WHO) terdapat 55 juta anak Indonesia masih beresiko menderita kecacingan. Untuk itu perlu dilakukan upaya pencegahan. Salah satunya adalah dengan meningkatkan kualitas kesehatan anak- anak. ‘’Melalui gerakan jam main kita inilah anak- anak bisa lebih aktif bermain diluar tanpa takut kecacingan,’’ ungkapnya.

Penyakit kecacingan sendiri akan membuat penderita mengalami gangguan kesehatan yang serius seperti kurang gizi, penurunan tingkat kecerdasan dan rendahnya produktifitas. ‘’Kita ingin membantu pemerintah, Lembaga dll, meningkatkan kualitas kesehatan anak Indonesia secara terintegrasi terutama di NTB,’’ tambahnya.

Sebelumnya pada tanggal Rabu (17/07/19) sebagai rangkaian HANI 2019 telah digelar juga talkshow bersama seto mulyadi dengan tema mendidik anak di era milenial yang digagas LPA NTB bekerjasama dengan Pemprov NTB dan tim penggerak PKK NTB. 

Saatnya Orangtua Luangkan Waktu Bagi Anak

 

Baca Juga :


Minimnya waktu yang diluangkan orangtua bagi anak- anak mereka menjadi salah satu alasan diluncurkannya juga gerakan jam main kita yang diinisiasi Lembaga Perlindungan Anak (LPA) NTB. orangtua cenderung lebih mengandalkan gawai dalam menjalankan aktifitas sehari- hari terutama bagi anak- anak mereka. Para orangtua berpikir anak- anak lebih baik bermain di dalam ruangan saja. Sehingga waktu kebersamaan dengan anak sangat terbatas. 

Gubernur NTB Dr. H. Zulkieflimansyah mengatakan, pesan sederhana yang dihadirkan dalam gerakan jam main kita tersebut, tidak hanya ingin mencegah anak- anak untuk kecanduan gawai saja, akan tetapi mampu menyadarkan para orangtua untuk mau meluangkan waktu bersama anak- anak mereka. 

‘’Sekarang yang jadi masalah bukan anak- anak. Tapi orangtua yang kehilangan waktu dan rasa untuk bermain dan merayakan kehangatan bersama keluarga. Makanya tidak heran, banyak orangtua yang stres karena tidak punya banyak waktu bermain bersama keluarganya,’’ kata Dr. Zul. 

Pesan sederhana yang juga ingin disampaikan adalah bagaimana dalam kegiatan tersebut bisa menyadarkan masyarakat terutama para orangtua pada zaman modern saat ini, untuk menjadi bahagia itu sederhana yakni dengan tetap 
memelihara keinginan bermain bersama keluarga, kerabat dan lainnya. ‘’Intinya bebas gawai, bebas bermain,’’ tambahnya.

Selain memberikan kesempatan bagi anak- anak untuk bermain bersama. Gerakan jam main kita itu juga sebagai gagasan produktif mendukung program pemerintah dalam mewujudkan kabupaten/kota layak anak untuk NTB gemilang. Dimana kabupaten/kota layak anak ini ada dalam misi keenam gubernur dan wakil gubernur NTB yang tertuang dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) NTB tahun 2019- 2023 yakni gemilang pembangunan sosial budaya. 

Kriteria kabupaten/ kota layak anak sendiri adalah yang ramah dan memenuhi hak – hak anak seperti adanya tempat bermain untuk anak- anak, ruang terbuka hijau, pelayanan kesehatan dan Pendidikan yang mudah diakses. Sehingga anak- anak lebih bebas dan mudah mendapatkan hak mereka untuk menikmati masa kecil. (luk-tim media).



 

Artikel Terkait

0 KOMENTAR

Belum ada komentar.
Berikan Komentar Bermanfaat Meski Satu Kalimat
 
 

TULIS KOMENTAR

Silahkan Login terlebih dahulu untuk mengisi komentar.
 
Copyright © 2008-2019 | kampung-media.com. All rights reserved.
 
Tutup Iklan