logoblog

Cari

Bersama Santri Damailah Negeri

Bersama Santri Damailah Negeri

Mataram _Sejak Hari Santri ditetapkan pada tahun 2015, kita selalu menyelenggarakan peringatan setiap tahunnya dengan tema yang berbeda. Secara berurutan pada

Sosial & Keagamaan

H.DJOKO PITOYO,S.SOS
Oleh H.DJOKO PITOYO,S.SOS
23 Oktober, 2019 06:20:03
Sosial & Keagamaan
Komentar: 0
Dibaca: 374 Kali

Mataram _Sejak Hari Santri ditetapkan pada tahun 2015, kita selalu menyelenggarakan peringatan setiap tahunnya dengan tema yang berbeda. Secara berurutan pada tahun 2016 mengusung tema "Dari Pesantren untuk Indonesia", tahun 2017 "Wajah Pesantren Wajah Indonesia", dan tahun 2018 "Bersama Santri Damailah Negeri".

Disampaikan Bupati Lombok Barat yang diwakili oleh Sekretaris Daerah H. Lalu Muhammad Taufik selaku Pembina Upacara pada Upacara Bendera (Selasa, 22-10-2019) dalam rangka memperingati Hari Santri Nasional Ke-5 Tahun 2019 di lapangan Bupati Lombok Barat didepan peserta Upacara yang terdiri dari seluruh Karyawan/wati Kanwil Kemenag Provinsi NTB, Kemenag Kabupaten Lobar, para siswa-siswi Madrasah, Pondok Pesantren beserta Guru se Pulau Lombok. Meneruskan tema tahun 2018, lanjut H. Lalu Muhammad Taufik, peringatan Hari Santri 2019 mengusung tema "Santri Indonesia untuk Perdamaian Dunia".

Isu perdamaian diangkat berdasar fakta bahwa sejatinya pesantren adalah laboratorium perdamaian. Sebagai laboratorium perdamaian, pesantren merupakan tempat menyemai ajaran Islam rahmatanlilalamin, Islam ramah dan moderat dalam beragama. Sikap moderat dalam beragama sangat penting bagi masyarakat yang plural dan multikultural, 

Dengan era seperti inilah keragaman dapat disikapi dengan bijak serta toleransi dan keadilan dapat terwujud, semangat ajaran inilah yang dapat menginspirasi santri untuk berkontribusi merawat perdamaian dunia”, papar H. Lalu Muhammad Taufik. H. Lalu M. Taufik dalam sambutannya menyampaikan, bahwa ada 9 dasar alasan mengapa Pesantren layak disebut sebagai laboratorium perdamaian, Pertama; Kesadaran harmoni beragama dan berbangsa, Kedua : Metode mengaji dan mengkaji, Ketiga : Para santri biasa diajarkan untuk khidmah (Pengabdian), Keempat : Pendidikan kemandirian, kerja sama dan saling membantu di kalangan santri.

Lantaran jauh dari keluarga, santri terbiasa hidup mandiri, memupuk solidaritas dan gotong-royong sesama para pejuang ilmu. Yang Kelima : adalah gerakan komunitas seperti kesenian dan sastra tumbuh subur di Pesantren, Keenam : Lahirnya beragam kelompok diskusi dalam skala kecil maupun besar untuk membahas hal-hal remeh sampai yang serius, sedangkan yang Ketujuh : adalah merawat khazanah kearifan lokal, Kedelapan : adalah prinsip Maslahat (kepentingan umum) merupakan pegangan yang sudah tidak bisa ditawar lagi oleh kalangan pesantren. Tidak ada ceritanya orang-orang pesantren meresahkan dan menyesatkan masyarakat, sedangkan yang terahir Kesembilan : adalah penanaman spiritual.

 

Baca Juga :


“Kita patut kita bersukur pada peringatan hari santri tahun 2019 ini terasa sangat istimewa dengan hadirnya UU No. 18 tahun 2019 tentang pesantren memastikan bahwa pesantren tidak hanya mengembangkan fungsi pendidikan, juga fungsi dakwah dan pengabdian masyarakat. Dengan UU ini negara hadir untuk memberikan rekognisi, afirmasi dan fasilitasi kepada pesantren dan menjaga kekhasan serta kemandiriannya. Dengan UU ini pula tamatan pesantren memiliki hak yang sama dengan tamatan lembaga lainnya”, pungkas H. Lalu M. Taufik dalam amanat Pembina Upacaranya.

Upacara Bendera Hari Santri Nasional yang terlihat sangat istimewa ini dikarenakan bahwa seluruh peserta Upacara, termasuk undangan lainnya, semua menggunakan pakaian muslim yang dibarengi dengan sarung, tidak terkecuali Kepala Kanwil Kemenag Provinsi NTB H. Nasruddin bersama seluruh jajarannya. (miq olah).



 

Artikel Terkait

0 KOMENTAR

Belum ada komentar.
Berikan Komentar Bermanfaat Meski Satu Kalimat
 
 

TULIS KOMENTAR

Silahkan Login terlebih dahulu untuk mengisi komentar.
 
Copyright © 2008-2019 | kampung-media.com. All rights reserved.
 
Tutup Iklan