Saling "Tulung" Cermin Persatuan Dan Kesatuan

Salah satu budaya yang mencerminkan Pesatuan dan Kesatuan adalah Budaya Saling Tulung yang hingga saat ini masih dijaga dan dilaksanakan oleh masyarakat Dusun Sukamulia Desa Pohgading Timur Kecamatan Pringgbaya. Budaya Saling Tulung (Tolong Menolong) merupakan budaya asli bangsa Indonesia yang dituagkan dalam UUD 1945 dan Pancasila. Hanya saja pada zaman sekarang ini, Tolong Menolong sepertinya adalah hal yang cukup langka dalam kehidupan social masyarakat, terutama pada masyarakat perkotaan.

Masyarakat Dusun Sukamulia sangat mengutamakan sikap kekeluargaan dan tetap Saling Tulung dalam berbagai aspek kehidupan mereka. Individualisme dan materialisme adalah hal yang sangat dibenci oleh masyarakat setempat. Oleh sebab itu, jika ada di antara mereka yang lebih mementingkan kepentingan peribadi daripada kepentingan orang banyak/sosial maka orang tersebut akan disisihkan dari masyarakat. Hal inilah yang kemudian menyebabkan masyarakat Dusun Sukamulia terus menjalin silaturrahmi dan Saling Tulung dalam berbagai aspek kehidupan mereka.

Kegiatan-kegiatan Salin Tulung yang dilakukan oleh masyarakat Dusun Sukamulia merupakan cerminan atas jiwa kekeluargaan dan rasa persataun dan kesatuan yang hidup pada jiwa mereka. Hal inilah yang kemudian menyebabkan masyarakat sekitar menyebut masyarakat Dusun Sukamulia sebagai masyarakat yang Kuat dan Kompak.

Budaya Saling Tulung mereka lakukan untuk menyelesaikan kegiatan-kegiatan yang cukup rumit dan membutuhkan tenaga dan biaya banyak. Dalam bidang pertanian, masyarakat Dusun Sukamulia yang merupakan masyarakat petani dengan tanaman komuditi tembakau dan cabe. Untuk menanam tembakau dan cabe dibutuhkan biaya dan tenaga yang lumayan. Untuk mempercepat penanaman dan mengurangi biaya yang dikeluarkan maka masyarakat Dusun Sukamulia menanam tembakau dan cabe dengan cara Sling Tulung. Dengan Saling Tukung maka satu hektar sawah dapat ditanami tembakau dan cabe dalam waktu 2 samapai 3 jam. Ketika musim menanam tembakau tiba, warga Dusun Sukamulia menanam tembakau dan cabe secara bergantian supaya mereka dapat Saling Tulung. Pada musim tanam itu, setiap harinya hanya ada dua hingga tiga orang yang diperbolehkan untuk menanam. Hal ini dilakukan supaya warga bisa Saling Tulung untuk menjaga kebiasaan tolong menolong yang mereka warisi dari para pendahulu mereka.

Masyarakat Dusun Sukamulia juga Saling Tulung dalam kegiatan membangun rumah. Biasanya kegiatan Saling Tulung dilakukan saat menggali pondasi dan kerangka atap rumah. Jika ada salah seorang warga yang akan membangun rumah maka pada malam hari sebelum hari pelaksanaan, ketua RT akan memberi pengumuman lewat corong masjid bahwa besok pagi salah seorang warga akan menggali pondasi/menaikkan kerangka atap rumah. Keesokan harinya warga akan berduyun-duyun mendatangi lokasi pembangunan dengan membawa pacul, sekop, dan perlatan menggali pondasi lainnya. Gotong royong akan diahiri apabila pondasi rumah sudah terselesaikan dan kegiatan memasang tembok hingga selanjutnya akan diselesaikan oleh tukang bangunan yang dipercayai oleh si pemiliki rumah.

Saling Tulung juga dilaksanakan oleh warga Dusun Sukamulia apabila ada dianatar mereka yang akan Begawe atau melakukan selamatan, baik selamatan hitanan, perkawinan, kematian, dal selamatan/Gawe lainnya. Saling Tulung pada kegiatan semacam ini biasa dimulai sejak satu minggu sebelum Gawe dilaksanakan, mulai dari mengumpulkan kayu, mengumpulkan kelapa dan kelengkapan-kelengkapan lainnya.

Kegiatan Saling Tulung juga terlihat dalam aspek social lainnya, misalkan ketika salah seorang diantara mereka ditimpa musibah. Jika ada salah seorang warga yang sakit maka segenap masyarakat akan menjenguknya secara bergantian. Lebih-lebih jika warganya yang sakit itu dirawat di Puskesmas atau di Rumah Sakit. Hal ini mencerminkan rasa solidaritas, rasa persatuan dan kesatuan yang kokoh dalam kehidupan social masyarakat Dusun Sukamulia.

Budaya Saling Tulung atau yang kita kenal dengan istilah Tolong-Menolong adalah budaya luhur bangsa Indonesia. Namun ahir-ahir ini bangsa kita telah banyak mengalami degradasi nilai dan norma luhur yang digariskan dalam Undang-Undang 1945 dan Pancasila. Begitu banyak karakter luhur bangsa kita yang tergeser dan disingkirkan oleh karakter-karakter budaya modern dan budaya global yang bertentangan dengan nilai-nilai Pancasila dan UUD 1945. Sebab itu, tidak heran jika setiap hari media dan berita di layar TV kita terus menyiarkan informasi yang cukup mengiris hati.

Tindakan-tindakan criminal dan perpecahan yang terjadi di berbagai wilayah Negeara Kesatuan Republik Indonesia terus menjadi-jadi. Hal ini disebabkan oleh hilangnya nilai-nilai Pancasilais dalam kehiduapan social masyarakat kita. Budaya materialistis dan individualisme juga tertanam begitu erat dalam jiwa masyarakat. Sedangkan budaya gotong royong dan rasa kekeluargaan ditinggalkan begitu saja. Hal ini tentunya akan sangat membahayakan kesatuan dan persatuan kita semua.

Budaya Tolong-Menolong sebagaimana yang masih dipelihara dan dilakukan oleh warga Dusun Sukamulia mungkin sudah agak langka untuk kita temukan pada zaman sekarang ini. Sudah banyak masyarakat yang meninggalkan tradisi semacam ini, lebih-lebih masyarakat yang hidup di wilayah perkotaan. Budaya tolong menolong/bergotong royong sudah tersisih oleh sikap materialistis dan indivisualisme. Padahal sikap materialistis dan individualisme merupakan sikap yang bertentangan dengan nilai-nilai Pancasila dan UUD 1945. Hal inilah yang kemudian menyebabkan bangsa kita terombang-ambing dan terpecah-belah dan hidup dalam kondisi yang tidak menentu. Hal ini pula yang kemudian menyebabkan lemahnya ketahanan sosoial bangsa kita dan ahirnya kerisis multimedia-lah yang harus menimpa kita.

Semoga tulisan ini dapat menjadi renungan kita semua, sehingga kita bisa terus menggalakkan budaya tolong menolong/Saling Tulung dalam kehidupan social kita. Demi terciptanya persatuan dan kesatuan dan demi terselenggaranya ketahanan social dalam kehidupan masyaralat kita. Dan semoga Allah senantiasa mencurahkan rahmat dan hidayahnya kepada kita sekalian serta membangkitkan daerah dan bangsa yang kita cintai ini dari keterpurukan yang menimpanya.[] - 01

 

Advertisement

Artikel Terkait

Advertisement

Artikel Populer

Artikel Terbaru