Pemuda dan Demokrasi

Pemuda dan demokrasi merupakan dua kata yang tidak dapat dipisahkan, antara pemuda dan demokrasi, merupakan dua padanan suku kata yang berbeda namun mempunyai ikatan kuat yang saling megikat. Sama-sama saling membutuhkan dan saling melengkapi. Seperti dalam istilah biologinya dikenal dengan simbiosis mutualisme. Demokrasi mempengaruhi pemuda, yangmana Demokrasi itu sendiri merupakan sebuah sistem pemerintahan dari rakyat, oleh rakyat dan untuk rakyat. Sedangkan pemuda yang merupakan ujung tombak perubahan mempunyai peran penting dalam membangun sebuah peradaban yang lebih baik.

Pemuda dan demokrasi mempunyai keterkaitan yang sangat erat dalam tahapan proses pembangunan di Indonesia. sebagaimana yang kita ketahui bahwa demokrasi selain hanya sebagai sebuah sistem tatanan pemerintahan suatu bangsa, ia juga merupakan sebuah instrument perubahan dalam upaya peningkatan kesejahteraan, dan idealnya pemuda terlibat dalam proses perubahan tersebut. Tanpa pemuda sebuah sistem tidak dapat berjalan, dan tanpa sebuah sistem, pemuda maupun masyarakat luas tidak dapat berjalan beriringan.

Dalam konteks UU Otda, pemuda memiliki kesempatan yang lebih besar untuk terlibat secara aktif dalam proses penyusunan kebijakan (peraturan daerah), pelaksanaan kebijakan dan evaluasi kebijakan tersebut. Pemerintahan lokal potensial untuk jadi lebih demokratis, karena dengan membangun demokrasi popular danakuntabilitas kepada pemerintahan lokal, pemerintah di tingkat lokal akan menjadi lebih responsive kepada tuntutan warganya, dan akan lebih efektif dalam penyelenggaraan pelayanan publiknya.

Tapi, pada faktanya dalam praktek-praktek ditingkat lokal sejak UU otda diberlakukan,peran-peran strategis pemuda begitu minim. Dengan kebijakan desentralisasi maka asumsinya locus pengambilan keputusan dan kebijakan dekat kepada masyarakat. Rendahnya partisipasi pemuda juga ditentukan oleh seberapa besar ruang yang dimiliiki untuk dapat meningkatkan kapasitas, aksesibilitas dan solidaritas diantara para pemuda. Ketidak pedulian pemuda juga disebabkan minimnya pengetahuan tentang demokrasi, tidak terkecuali pemuda lingkar kawasan yang selama ini dianggap terbelakang.

Oleh karena itulah, kegiatan-kegiatan seperti diskusi tematik yang diselenggarakan oleh sekelompok pemuda lingkar kawasan sangat penting dan dirasa perlu untuk dilakukan bahkan diteruskan. Karena dari kegiatan diskusi tematik yang bertemakan “Pemuda dan Demokrasi” menjadikan pemuda sekitar kawasan menjadi lebih kritis terhadap persoalan-persoalan yang menggerogoti daerahnya. Kegiatan ini dihadiri oleh beberapa perwakilan pemuda dari tiap-tiap desa. Adapun yang menjadi pembicara dalam acara diskusi tematik “Pemuda dan Demokrasi” ini adalah Lalu Burhanuddin SH, yang menjadi fasilitatornya adalah Hery Mahardika selaku ketua panitia pelaksana.

Diskusi tematik yang berlangsung pada tanggal 10 November 2014 ini sengaja dikemas bertepatan dengan Hari Pahlawan guna membangkitkan semangat juang para pemuda lingkar kawasan serta dapat meningkatkan pengetahuan, keterampilan pemuda lingkar kawasan terutama dalam pengembangan demokrasi, pengharagaan terhadap perempuan dan pengelolaan sumber daya alam. Disamping itu, dengan diadakannya diskusi tematik “Pemuda dan Demokrasi” ini bertujuan untuk pengembangan PRA-KARSA atau sebagai wahana lingkar belajar yang kritis dan memiliki kemampuan yang terorganisir dan mandiri secara berkelanjutan.

Pemuda mempunyai banyak potensi.Akan tetapi jika tidak dilakukan pembinaan yang terjadi adalah sebaliknya.Potensinya tak tergali,semangatnya melemah atau yang lebih buruk lagi ia menggunakan potensinya untuk hal-hal yang tidak baik misalnya tawuran. Sekali lagi ,pemuda adalah usia dan sosok yang hebat tapi tidak semua pemuda hebat . Pemuda yang hebat adalah pemuda yang mau berpartisipasi tanpa adanya paksaan dari pihak manapun. [] - 05

Advertisement

Artikel Terkait

Advertisement

Artikel Populer

Artikel Terbaru