Potret Kerukunan Hidup Umat Beragama (Bagian I)

Daerah Bali tidak hanya terkenal sebagai daerah wisata internasional. Namun, Bali menjadi salahstu contoh kerukunan hidup kelompok masyarakat majemuk dari berbagai agama di Indonesia. Meski merupakan daerah mayoritas umat beragama Hindu, tetapi pemeluk agama lain seperti Islam, Katolik, Protestan dan Budha hidup rukun dan bebas menjalankan keyakinan agamanya masing-masing.

Atas dasar itulah, Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Kota Bima mengagendakan kunjungan studi kerukunan dan toleransi umat beragama di daerah Bali untuk diadopsi ke Kota Bima. Kunjungan itu berlangsung selama empat hari, mulai Senin (17/11) hingga Kamis (20/11).

Anggota Kampung Media Nggusu Waru juga mendapatkan kesempatan untuk melihat langsung agenda kunjungan tersebut. Bagaimana potret kehidupan antar kerukunan kehidupan antar umat bergama selama kunjungan itu? Berikut catatannya.

Kunjungan pertama pada Selasa (18/11) pagi diawali di Puja Mandala, Nusa Dua Kabupaten Badung Propinsi Bali. Puja Mandala merupakan pusat peribadatan lima agama yakni Islam, Hindu, Katolik, Protestan dan Budha. Istilah pusat peribadatan lima agama mungkin menimbulkan asumsi bahwa tempat itu bergabung lima umat beragama untuk beribadah bersama disuatu tempat. Apalagi bagi umat Islam khususnya di Bima, istilah itu masih terdengar asing dan ‘nyeleneh’.

Padahal, sesungguhnya Puja Mandala merupakan satu kawasan khusus dibangunnya tempat ibadah masing-masing lima agama. Yakni Masjid Agung Ibnu Batutah, Gereja Katolik Maria Bunda Segala Bangsa, Wihara Budha Guna, Gereja Protestan GKPB Jama’at Bukit Dua, dan Pura Jagat Natha.

Tempat ibadah itu saling berdampingan satu sama lain. Berdiri megah dengan simbol masing-masing agama pula. Di kawasan yang cukup luas itu, para pemeluk lima agama secara rutin menjalankan ibadahnya. Bagi warga muslim dengan tenang melaksanakan sholat di masjid setempat, begitupun penganut empat lainnya.

Menurut Roihan, pengelola Masjid Agung Ibnu Batutah, kawasan Puja Mandala telah berdiri sejak lama dan digagas oleh perwakilan lima agama yang tergabung dalam FKUB Bali. Pembangunan masing-masing tempat ibadah dibantu sejumlah donator dan betul-betul swadaya.

Masjid Agung Ibnu Batutah, dirampungkan dari hasil donasi umat Islam sendiri. Peresmiannya dilakukan Mantan Presiden Republik Indonesia, Soeharto pada 20 Desember 1997. Saat itu, Soeharto meresmikannya dengan kapasitas sebagai Ketua Yayasan Amal Bhakti Muslim Pancasila.
“Saat merampungkan pembangunan masjid ini, kita dibantu umat agama lain dalam pengerjaannya. Dari Kristen, Hindu, Protestan dan Budha semua ikut memberikan dukungan,” kata Roihan yang juga Sekretaris FKUB Bali ini sambil mengajak rombongan FKUB Kota Bima berkeliling masjid.

Roihan mengatakan, kerukunan hidup antar umat beragama di Bali, khususnya di Nusa Dua sudah terjalin sejak lama. Masing-masing pemeluk agama saling menghargai ketika ada kegiatan keagamaan yang digelar. Khusus untuk umat Islam sendiri, dalam melaksanakan ibadah diberikan kekeluasan. Meski hidup ditengah daerah mayoritas Hindu, suara adzan pada setiap masjid tetap dikumandangkan dengan pengeras suara. “Masyararakat disini sudah terbiasa mendengar suara adzan, bahkan pada subuh hari tidak ada masalah kita adzan dengan pengeras suara. Kecuali pada hari besar umat Hindu seperti Nyepi, kita mengecilkan pengeras suara untuk menghargai mereka yang beribadah,” tutur Roihan.

Diakuinya, pembangunan tempat ibadah lima agama di Puja Mandala memang tidak begitu saja dilakukan. Sebelum pembangunan, butuh proses dua tahun untuk menyatukan pandangan dengan pemeluk agama lain. FKUB menjadi forum yang sangat bermanfaat dalam mempertemukan ide itu karena para tokoh agama tergabung di dalamnya.

Tantangan dalam pembangunan Puja Mandala sambungnya, adalah ketika satu saja dari pemeluk agama tidak sepakat maka tidak bisa terealisasi. Sebab keberadaan tempat ibadah harus disertai dengan kebutuhan pemeluknya. Namun berkat kedewasaan dan sikap toleransi masing-masing untuk membangun kerukunan, penyatuan pandangan itu bisa tercapai. “Satu persatu tempat ibadah disini dibangun secara bertahap dan alhamdulillah bisa dilihat sekarang semua bangunan berdiri megah sebagai cermin kebersamaan kami,” tandasnya.

Dewan Gereja Katolik Maria Bunda Segala Bangsa, Victor juga mengatakan, semua pemeluk agama di Nusa Dua saling hidup rukun dan berdampingan. Keharmonisan itu sudah terjalin sejak lama. Walaupun tak dipungkiri pernah terjadi riak-riak kecil yang sempat menggangu hubungan itu, tetapi mampu diselesaikan ketika para tokoh agama masing-masing agama duduk bersama mencarikan solusi.
“Kita tidak ingin riak-riak itu dimanfaatkan oknum tidak bertanggungjawab untuk merusak hubungan yang terbangun. Karena itu setiap ada masalah, kita pasti duduk bersama melalui forum FKUB untuk mencari solusi,” kata pria asal Nusa Tenggara Timur ini.

Tak sekedar saling menghargai lanjut Victor, masyarakat di Nusa Dua saling membantu satu sama lain ketika ada kegiatan keagamaan. Seperti saat Hari Paskah, banyak warga Muslim, Hindu, Protestan maupun Budha membantu persiapan. Dari hal kecil misalnya, menata tempat parkir, membawa peralatan yang dibutuhkan dan berbagi makanan (ngejot) ketika usai kegiatan. Pemeluk agama lain juga diperkenankan untuk ikut meramaikan kegiatan tanpa dibatasi.

Hubungan saling menghargai itu akunya, tercermin pula dalam rumah tangganya yang telah lama dibangun. Istrinya semula merupakan pemeluk Agama Hindu saat awal menikah dengannya. Belakangan kemudian memeluk Katolik atas pilihannya sendiri. “Hal seperti ini bukanlah persoalan bagi masyarakat di Bali, terpenting tidak ada paksaan dalam memilih,” ujar pria kulit hitam ini.

Dalam pandangannya, ada kesamaan pada ajaran setiap agama yang menjadi nilai penting untuk membangun kerukunan. Diantaranya adalah nilai kasih sayang, saling menghormati dan saling menghargai dengan perbedaan yang ada. Bila nilai ini selalu dipertahankan dan ditumbuhkan pemeluk agama, diyakininya hubungan persaudaraan akan senantiasa terjalin dengan indah.

Sambil berdiskusi dan menjelaskan tentang kerukunan hidup di Bali kepada rombongan FKUB dari Kota Bima, Victor dengan ramah mengajak berkeliling masuk di dalam areal gereja. Ia pun melayani berbagai pertanyaan dari rombongan yang ingin tahu lebih dalam tentang sejarah berdirinya Puja Mandala. Sebelum beranjak ke tempat ibadah lainnya, Victor menyempatkan diri berpose bersama dengan rombongan. (AD) - 05

 

Advertisement

Artikel Terkait

Advertisement

Artikel Populer

Artikel Terbaru