"Langgar" Masa Depan Akhirat

Puspalaya adalah salah satu dusun di desa Arjangka kecamatan Pringgarata kabupaten Lombok Tengah yang terletak kurang lebih 15 km dari pusat kota kabupaten.

Dari data yang dikutif di kepala dusun Bapak Kurniawan, saat ini jumlah penduduk Puspalaya setelah 1 tahun lalu mekar menjadi 2 dusun sebesar 630 jiwa, yang sebagian besar penduduknya bertumpu pada mata pencahariannya sebagai buruh tani dan sebagiannya memilih merantau ke pulau seberang seperti Sumatera dan Kalimantan.

Dari cerita para tetua adat dan tokoh masyarakat, Puspalaya merupakan salah satu dusun yang pernah memiliki sejarah kejayaan beberapa abad lalu, dimana para tokoh-tokoh masyarakatnya terkenal dengan kepemilikan lahan pertanian yang sangat luas yang saat ini menjadi wilayah-wilayah milik desa-desa lain seperti Murbaya, Pringgarata sampai dan desa Sintung.

Selain status mereka sebagai tuan tanah, mereka juga banyak menguasai tradisi-tradisi kesenian seperti gamelan yang dipadu dengan drama. tidak terlupakan pula bagaimana berkembangnya padepokan persilatan "Naga Kuning" yang dipimpin Haji Zen yang terkenal kehebatannya diseluruh perguruan silat saat itu.

Itulah sekelumit kisah kejayaan Puspalaya pada masa lampau, yang kini telah pudar dan hanya meninggalkan banyak kebobrokan dan kebodohan akibat tidak mampu mengikuti perkembangan IT dan kehilangan masa regenerasi.

Saat ini sering terjadi perkelahian, pencurian, minum-minuman keras yang dilakoni para anak remaja, belum lagi banyak yang putus sekolah, kawin di usia dini yang semua itu disebabkan oleh hilangnya pusat pembinaan diniah yang selama ini menjadi rem cakram prilaku menyimpang para anak remaja.

Hal tersebut dimulai sejak 3 tahun lalu, sejak salah satu tokoh agamanya sakit dan tak mampu membimbing para anak-anak remaja yang masih labil ini. sedangkan orang tua mereka yang rata-rata tak berpendidikan hanya bisa pasrah tak mampu mengendalikan anak-anak produksi masa kini yang dibesarkan dengan berbagai bentuk kecanggihan teknologi.

Kondisi itulah yang kemudian mengelitik kami para generasi baru yang kebetulan berkesempatan menimba ilmu sampai bangku sarjana, dan memulai usaha perubahan ini lewat pembangunan sebuah Langgar sebagai pusat pembinaan akhlaku karimah.

Langgar ini dibangun diatas tanah seluas 50 meter persegi yang dihibahkan oleh ahli warisnya yang masih berada di Sulawesi Selatan, dengan hanya bermodalkan dana awal swadaya sebesar Rp.3.500.000,- dari beberapa teman yang setuju dengan ide Langgar ini. setelah itu barulah kami memulai sosialisai kepada masyarakat sehingga sedikit demi sedikit dana Langgar mulai terkumpul dan pembangunanpun mulai berjalan sesuai harapan.

Setelah beberapa minggu sejak Langgar mulai dibangun. Sms, facebook, e-mail, BBM, dan massanger sebagai media sosialisasipun mulai membuahkan hasil. Teman, sahabat, kerabat, keluaga jauh mulai memberikan simpati dan interest untuk berinvestasi di proyek akhirat ini, sampai hari dimana jari jemari penulis ini berdansa, Langgar telah sampai pada kondisi 75%.

Harapan besar bertumpu pada Langgar ini, dimana didalamnya Islam ditegakkan, motivasi jadi mesin geraknya, dan akhlakulkarimah tujuan utamanya, sehingga paling tidak hari ini masih ada sekumpulan manusia yang peduli dan mau berbuat untuk memperbaiki nasib dan masa depan anak bangsa.

Semoga menjadi inspirasi bagi siapa saja yang didalam hatinya masih berniat dan belum bergerak untuk memulai perubahan yang lebih baik menuju masyarakat NTB yang madani. hery [] - 03

 

 

 
 

Advertisement

Artikel Terkait

Advertisement

Artikel Populer

Artikel Terbaru