Ditengarai Angka Kriminalitas di Woha Menurun

Efek Batu Akik?

Beberapa bulan terakhir ini, di Desa Tente, Nisa, dan Naru Kecamatan Woha ditengarai beberapa tokoh pemuda setempat, angka kriminalitas dan kenakalan remaja menurun secara signifikan. Diduga, hal ini merupakan salah satu dari “Efek Batu Akik”. Bagaimana bisa?

“Bisa saja. Masuk akal kok,” cetus Ibrahim M.Nur, seorang tokoh pemuda asal Desa Naru kepada Jompa, saat berbincang di kediamannya, Sabtu (27/03).

Ia berteori, menurunnya berbagai bentuk kenakalan remaja dan aksi-aksi yang menjurus pada kriminalitasme baru-baru ini, lebih disebakan karena adanya “pengalihan kegemaran dan aktivitas” dibandingkan hal-hal lain.

“Mereka yang dulunya gemar judi dan miras, sekarang telah beralih menggemari batu akik,” jelas Ibrahim, yang akrab disapa Bram ini. Ia mencontohkan, beberapa “sudut” dan lokasi di Tente, Nisa, dan Naru yang dulunya kerap dimangkali peminum dan penjudi, sekarang tidak nampak lagi aktivitasnya. Beberapa arena penyabungan ayam yang dulunya rutin digelar sekali seminggu, sekarang terlihat sepi peminat.

Menurutnya ini momentum yang luar biasa dan patut disyukuri bersama. “Mereka yang dulunya nota bene nganggur, sekarang setidaknya telah punya harapan,” Kata Bram.

Lanjut dia, di balik kemilau batu cincin itu tersimpan harapan mereka. Bukan harapan kosong menurut Bram. Karena faktanya, batu cincin memang sedang diminati, diburu, diperjual-belikan, dan dihargai mahal. Jadi mereka yang dulunya menganggur dan kerap berkumpul di beberapa sudut, sekarang menyebar menyemai harapan mereka di sepanjang sungai dan lereng-lereng pegunungan.

“Meski dalam perspektif ekonomi, bagi sebagian orang di antara mereka, batu akik belum membawa peruntungan. Tapi setidaknya secara hobby, mereka sudah terpuaskan. ”Urai Bram menutup argumennya.

Yah, meski argumennya belum didukung secara statistic. Tapi toh, kita tidak perlu hitungan matematis di atas kertas untuk menilai gejala-gejala social di sekitar kita. Cukuplah kita mengandalkan kepekaan, maka kita akan merasa. Bahwa apa yang ditengarainya bisa jadi benar semata.

Lebih jauh ia berharap Pemerintah Daerah harus pintar memanfaatkan “Efek Batu Akik” ini. Karena jika para penggemar batu akik diwadahi. Maka akan terbentuk sebuah komunitas yang besar. “Gesekan-gesekan sosial yang kerap terjadi di Bima ini bisa diminimalisir. Karena sulit dibayangkan ada konflik yang tersulut dalam wadah hobby yang sama.” Paparnya.

Selanjutnya, kata Bram, pemerintah daerah lah yang harus memikirkan bagaimana cara kreatif agar tercipta wadah bagi para penggemar batu akik ini. “Contoh kecilnya, adakan kontes lokal batu akik, sebagai bentuk apresiasi terhadap usaha dan kreatifitas mereka.” Gagasnya. (Adn) - 05

 
 

Advertisement

Artikel Terkait

Advertisement

Artikel Populer

Artikel Terbaru