“Belangar” Wujud Solidaritas Suku Sasak

KM. Sukamulia – Belangar merupakan salah satu tradisi yang dilaksanakan oleh masyarakat suku Sasak sebagai salah satu bentuk dari rasa solidaritas antar sesama. Belangar adalah mendatangi seseorang yang ditimpa musibah kematian dan atau mendatangi seseorang yang melaksanakan tradisi gawe lainnya, seperti gawe nyunatang (khitanan) dan gawe merariq (pernikahan). Dalam kehidupan social masyarakat suku Sasak, belangar merupakan hal yang sangat penting dan harus tetap dilestarikan. Oleh sebab itulah, tradisi belangar masih tetap dilaksanakan hingga saat ini.

Di tengah moderenisasi dan globalisasi, banyak sekali unsur-unsur budaya lokal masyarakat nusantara yang mengalami degradasi dan ahirnya tergantikan dengan budaya-budaya modern yang anemonya bertentangan dengan budaya lokal. Namun demikian, unsur-unsur budaya lokal masyarakat suku Sasak terus bertahan dalam terpaan gelombang budaya modern itu. Hal ini adalah bukti nyata bahwa masyarakat Sasak adalah masyarakat yang berbudaya dan sangat menghargai tradisi dan warisan luhur nenek moyang mereka.

Salah satu tradisi yang senantiasa dipertehankan hingga saat ini adalah tradisi Belangar yang merupakan salah satu tradisi yang dilaksanakan sebagai perwujudan atas prilaku social masyarakat Sasak yang begitu luhur. Dalam tradisi belangat tersimpan pesan moral dan pendidikan yang cukup arif, dimana tradisi ini mengajarkan kita untuk selalu peduli terhadap sesama, selalu mempertahankan sifat-sifat kekeluargaan dan bekerjasama dalam mengatasi suatu permasalahan.

Tradisi belangar cukuplah sederhana dan umumnya dilaksanakan ketika seseorang mengalami musibah kematian dan dalam keidupan social masyarakat suku Sasak di berbagai wilayah Pulau Lombok, tradisi belangar juga dilaksanakan pada saat seseorng melaksanakan gawe nyunatang (pelaksanaan khitanan) dang awe merariq (pelaksanaan pesta pernikahan).

Apa bila ada seorang warga suku Sasak yang meninggal maka berita tentang meninggalnya seseorang itu diumumkan melalui corong-corong masjid dan mushalla. Hal itu ditujukan supaya seluruh warga sekitar mengetahui musibah yang menimpa salah seorang di antara mereka. Setelah mendengarkan pengumuman itu, sahabat, kerabat dan handaitolan serta warga lainnya akan berbondong-bondong mendatangi rumah keluarga yang sedang ditimpa musiabah kematian itu. Pihak keluarga yang mengalami musibah akan duduk menunggu para pelayat, pihak laki-laki duduk menerima pelayat laki-laki dan demikian pula dengan pihak perempuan.

Masing-masing orang membawa uang (bagi kaum laki-laki) dan kaum perempuan akan membawa beras, piring, sabun mandi dan uang. Uang dan barang-barang itu diserahkan kepada keluarga yang ditinggalkan oleh almarhum/almarhumah. Selesai meyerahkan uang dan bawaan lainnya, sahabat, kerabat dan keluarga dekat berkumpul untuk menyelesaikan berbagai kebutuhan yang terkait dengan pelaksanaan pemakaman. Kaum laki-laki menyelesaikan berbagai hal untuk kegiatan pemakaman, seperti membuat keranda mayat (gorong batang: bahasa Sasak), menyiapkan tempat pemandian zanazah, penggalian kubur dan sebagainya. Sedangkan kaum perempuan bertugas untuk menyiapkan berbagai kebutuhan yang terkait dengan masalah masak-memasak.

Tradisi belangar sungatlah luhur dan tentunya tradisi ini sangat penting untuk dijaga dan terus dilestarikan. Tradisi ini bertujuan untuk meringankan beban seseorang yang sedang mengalami musibah dan tentunya tradisi ini juga dapat mengurangi kesedihan keluarga yang ditimpa musibah itu. Uang dan barang-barang yang didapatkan dari pelangar akan digunakan untuk menyelenggarakan acara gawe pati (upacara kematian seseorang), mulai dari hari pemakaman, nelung, nituq, nyiwaq, matang pulu hingga acara nyatus.

Seperti disampaikan tadi, dalam kehidupan social masyarakat suku Sasak, tradisi belangar juga dilaksanakan pada saat seorang warga melaksanakan upacara khitanan dan upacara perkawinan. Hal ini ditujukan untuk membantu dan meringankan beban pihak penyelenggara gawe (pesta). Untuk itu, setiap warga merasa wajib untuk belangar dan nantinya jika mereka ditimpa musibah atau melaksanakan gawe nyunatang dang awe merariq maka warga lainnya juga akan melakukan hal yang sama kepadanya. Di sinilah terlihat betapa masyarakat Sasak sangat setia menjalankan prinsip “Berat Sama Dipikul, Ringan Sama Dijinjing” yang artinya bahwa kita harus senantiasa saling membantu dalam kesulitan dan saling bekerja sama dalam suka dan duka.

Pada saat dilaksanakannya upacara khitanan dan perkawinan, masyarakat suku Sasak akan mengunjungi penyelenggara gawe (pesta). Di sini dikenal namanya Langar Dalem Gubuq dan Langar Luar Gubuq. Langar Dalem Gubuq adalah kegiatan belangar yang dilakukan oleh warga yang tingal sekampung dan sanak family/keluarga dekat penyelenggara pesta. Kegiatan ini biasanya dilaksanakan pada malam penyelenggaraan rondon (satu malam sebelum malam hari H), dimana warga laki-laki berkunjung ke rumah penyelenggara gawe dengan membawa uang, sesuai dengan nominal yang telah disepakati oleh warga setempat. Sedangkan warga perempuan berkunjung dengan membawa bokoran/bakaq yang berisi beras dan gula.

Selanjutnya, Langar Luar Gubuq merupakan tradisi belangar yang dilaksanakan oleh warga yang berasal dari luar kampung penyelenggara pesta (warga kampung tetangga). Kegiatan ini dilaksanakan pada malam hari H, dimana warga laki-laki berkunjung ke rumah penyelenggara gawe dengan membawa uang dengan nominal yang tidak ditetapkan.

Uang yang didapatkan dari para pelangar biasa digunakan untuk membeli ikan/daging serta kebutuhan-kebutuhan lainnya. Sedangkan barang-barang yang berupa beras dan gula digunakan sebagai bahan masakan yang akan disuguhkan untuk setiap tamu yang menghadiri acara tersebut.

Sesungguhnya, tradisi belangar bukan hanya sebagai bentuk solidaritas saja. Namun lebih dari itu, tradisi belangar juga dapat mempererat tali silaturrahmi dan rasa kekeluargaan masyarakat suku Sasak. Oleh sebab itu, tradisi yang mulia ini haruslah terus dijaga dan dilestarikan hingga kapan-pun sebab tradisi ini merupakan peninggalan nenek moyang suku Sasak yang sangat luhur dan arif. Ini merupakan kearifan lokal yang sulit untuk ditemukan dalam kehidupan suku bangsa lainnya. Oleh sebab itu, banggalah kita menjadi salah seorang bagian dari suku Sasak yang hidup dengan nilai-nilai kearifan lokal budaya yang kita warisi dari nenek moayang kita. [] - 05

_By. Asri The Gila_

Advertisement

Artikel Terkait

Advertisement

Artikel Populer

Artikel Terbaru