Hukum Dan Jasa

Galir Elak (Lidah Tak Terkontrol / suka ceplas-ceplos)

Sebut  saja Namanya KoHa,  Berumur kurang lebih setengah abad atau kurang sedikit dari rekan-rekan seusianya, lahir dari rahim ibu yang sangat menyayanginya, namun nasib memang tidak dapat di rekayasa, semuanya diatur oleh yang maha kuasa, meski demikian adanya bukanlah suatu halangan baginya untuk mengabdikan dirinya untuk tanah tumpah kelahirannya dan bumi yang dipijaknya.

Berbekal kemampuan dalam mengelola sumberdaya serta modal keluwesannya dalam membangun komunikasi dengan lingkungan sekitarnya, KoHa memiliki banyak teman baik yang selalu mengisi kekurangan yang dimilkinya, berpijak dari kenyataan itulah KoHa mulai mengembangkan karirnya, berkifrah demi sebuah pengabdian.

Masyarakat yang di tempati KoHa tergolong masyarakat yang sangat Pluralis namun kondisi demikian baginya adalah sebuah alat untuk dapat merangkul semua Ornamen-ornamen penting dalam hidupnya mengabdikan diri bagi tanahnya seperti keyakinan yang diimaninya, KoHa mengahabiskan harinya dengan pengabdian dan kemajuan, figuritas dan Popularitasnya terdongkrak begitu cepat, dan akhirnya cita-citanya pun tercapai.

Empat tahun silam KoHa Tampil Fenomenal bersama rekanan yang sarat dengan prestasi gemilang pada stasiun-stasiun televise. Media massa dan berbagai alat reklame lainnya,telah mengantarkan Sosoknya yang prestisius menjadi sangat populis, namun saying sungguh sayang untung tak dapat diraih malang tak dapat di elak, seperti kata pepatah senjata makan tuan, atau pepatah hendak tinggi akhirnya jatuh, begitulah gambaran sederhana dari prilakunya yang sering ceplas ceplos.

Pernah suatu ketika saat purnama ditengah malam KoHa mengatakan sesuatu diluar dugaanya bahkan menurut anggapan masyarakat dilingkungan tempat tinggalnya belum pernah ada yang berani berkata seperti itu, beberapa tahun silam sebelumnya juga terdengar desas-desus orang-orang yang mencoba melawan pantangan itu mereka terkena tulah, hingga mengalami isolasi dan terasing dari warganya.

Apa yang dilakukan KoHa selama ini kini terendus sudah, pemuka suku sangat geram dengan ucapan itu, rekan-rekannya banyak yang mencoba melakukan pembelaan tetapi memang nasi sudah menjadi bubur, ludah sudah terculas, kutukan harus di jalani begitu hukum yang berlaku dalam masyarakatnya, jasa-jasanya yang selama ini pupus bagai panas setahun dihapus hujan sehari.

Sebenarnya Hal seperti itu tidak seharus terjadi pada KoHa akan tetapi hidup memang harus memilih yang terbaik bukan sekedar baik tetapi yang terbaik, pribadi KoHa yang sarat dengan prestasi sudah sangat layak untuk menjadi Punggawa kerajaan bawah sadar yang dicita-citakanya selama ini, hanya karena pasir yang masuk kemulutnya KoHa harus Menaggung Akibat dari tindakannya.(Abu Ikbal)

Advertisement

Artikel Terkait

Advertisement

Artikel Populer

Artikel Terbaru