Prosesi "Namatan" Masih Ada

PROSESI NAMATAN MASIH ADA

KM. MASBAGIK. Karang Gading, Dusun Sungkit, Desa Kesik. Sebagai bentuk refleksi dari kegiatan yang telah dilakukan selama beberapa tahun, khususnya dalam bidang pendidikan maka dilakukanlah kegiatan pengijazahan. Pengijazahan biasanya dikenal dalam bidang pendidikan saja, namun sebenarnya dalam bidang agama pun terdapat istilah seperti itu. Di bidang agama, pengijazahan dilakukan setelah santri berhasil mengkhatamkan Al-Qur’an yang telah dipelajari selama waktu tertentu.

Dalam adat Suku Sasak proses pengijazahan Al-Qur’an dikenal dengan nama namatan. Kegiatan namatan dilakukan biasanya pada bulan kelahiran Rasulullah SAW yaitu bulan Rabi’ul Awwal (biasannya dikenal dengan bulan Maulid). Acara namatan akan dirangkaikan dengan kegiatan lain seperti santunan anak yatim, berbagai perlombaan, dan ceramah uraian hikmah maulid oleh para Tuan Guru.

Mushalla Al-Munawwarah yang berdiri sejak tahun 1992 telah mencetak banyak santri. Sejak berdirinya tercatat telah melakukan prosesi namatan sebanyak tiga kali. Pada tahun ini, pengasuh Mushalla setelah melakukan diskusi dengan tokoh masyarakat dan para wali santri sepakat untuk mengadakan lagi kegiatan tersebut.  Setiap wali santri yang namatan seperti kebiasaan akan menyiapakan satu dulang (nasi beserta lauk pauk) dan jajan untuk dibawa ke Mushalla. Kegiatan ini diikuti oleh 16 orang santriwan santriwati.  Para santri yang namatan akan membacakan surah-surah pendek mulai dari Surah At-takatsur hingga Surah An-Nas yang akan disimak oleh ulama atau Tuan Guru beserta tokoh masyarakat dan tokoh agama. Setelah itu, Tuan Guru akan membacakan doa khatamul Qur’an setelah itu para santri berkeliling bersalaman kepada tamu undangan yang hadir.

By_Andre D’Jails () -03

Advertisement

Artikel Terkait

Advertisement

Artikel Populer

Artikel Terbaru