Belajar Tradisi Islam Di Masjid

Dalam dunia pesantren, keberadaan ma
sjid merupakan salah satu komponen penting dalam menanamkan nilai ke-Islaman para santri, terutama dalam praktek sembahyang lima waktu, khutbah dan sembahyang Jum’ah. Selain itu, di dalam masjid itu, para santri akan mendapatkan pengajaran kitab Islam klasik.

Keberadaan masjid sebagai pusat pendidikan dalam tradisi pesantren merupakan suatu manufestasi universalisme dari sistem pendidikan Islam tradisional. Artinya bahwa kesinambungan sistem pendidikanIslam yang berpusat pada masjid sejak masjid al Qubba didirikan dekat Madinah pada masa Nabi Muhammad saw tetap membudaya dalam sistem pesantren. Sejak zaman Nabi, masjid telah menjadi pusat pendidikan Islam. Di manapun kaum muslimin berada, mereka selalu menggunakan masjid sebagai tempat pertemuan, pusat pendidikan, bahkan sebagai tempat akifitas administrasi dan kultural.

Pada zaman sekarang, ummat Islam masih mempertahankan nilai-nilai budaya ke-Islaman yang diwariskan sejak adanya Islam di dunia. Para ulama yang dengan penuh pengabdian mengajar kepada murid-murid di masjid, serta memberi wejangan dan anjuran kepada murid-murid  agar tetap meneruskan tradisi yang terbentuk sejak permulaan Islam.

Berbagai lembaga-lembaga pesantren d
i Lombok mengembangkan tradisi ke-Islaman yang terbentuk sejak zaman permulaan Islam. Di Lombok barat, Pondok Pesantren Nurul Hakim yang tereletak di Kediri-Lombok Barat tetap menegmbangkan terus tradisi tersebut. Para Tuan Guru dan atau udztas-udztas selalu mengajar murid-muridnya di dalam krlas dan juga di masjid. Mereka menganggap bahwa masjid sebagai tempat yan paling tepat unuk menanamkan nilai kedisipinan dalam mengerjakan sembahyang lima waktu, memperoleh pengetahuan agama dan kewajiban agama yang lain.

Jikalau kita mengkaitkan dengan pondok-pondok pesantren yang ada di tempat lain, biasanya sebuah pesantren itu diawali dengan keberadaan majid yang ada di dekat rumah dari seorang udztas atau ulama, sebab dialah nanti yang akan memimpin dan menganjurkan pegajaran tentang nilai-nilai ke-Islaman yang benar. Dari tuturan warga di sekitar pondok Pesanteren Nurul Hakim, keberadaan pondok pesantren itu diawali dengan bangunan masjid yang dirintis oleh Almarhum Bapak TGH. Abdul Karim pada tahun 1924 M. Ia pun memimpin pesantren tersebut, dan kepemimpinan dilanjutkan oleh anak dia TGH Shafwan Hakim yang memimpin pondok pesantren Nurul Hakim sampai saat ini. [] - 05

Advertisement

Artikel Terkait

Advertisement

Artikel Populer

Advertisement

Artikel Terbaru