Bacaan Jelang HAUL Gus Dur

Buku pertama, "Gus Dur dan Masyarakat Sipil" saya dapatkan dari seorang intelektual muda Muhamadiyah dan penulis banyak buku asal Bima. Walau aktif di Muhamadiyah, dia salah seorang ribuan anak muda di Indonesia yang kagum dengan pemikiran-pikiran Gus Dur. Bahasa sekarangnya, dia juga Gus Durian walau secara organisasi dia keluarga Muhammadiyah. Teman tempat saya mengambil buku ini alumni Jurusan Hubungan Internasional di Universitas Muhamadiyah Yogyakarta (UMY).

Begitu juga halnya, banyak mahasiswa yang berasal dari keluarga Nahdalatul Wathan (NW) juga yang GusDurian. Mereka berkenalan dengan pemikiran dan kiprah Gus Dur ketika lalu masuk organisasi gerakan seperti Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) atau Himpunan Mahasiswa Islam (HMI). Demikian halnya juga dengan mahasiswa-mahasiswa non Muslim diberbagai kampus.

Kalau anak-anak muda Muhamadiyah, NW dan orang-orang non Muslim saja suka dan kagum dengan pemikiran-pemikiran Gus Dur, - akan aneh kalau anak-anak muda dari keluarga NU tidak kenal bahkan merasa alergi dengan pemikiran ke-Islaman Gus Dur. Malah ikut-ikut menuduh yang macam-macam bernada negatif pada Gus Dur dan tokoh-tokoh NU yang lain.

Buku ini diterbitkan tahun 1994 banyak dibaca, analisis dan ulas oleh banyak kalangan karena menyangkut pemikiran, kiprah dan gerakan Gus Dur memimpin NU ditengah berbagai tekanan Orde Baru dengan Suharto. Buku ini ditulis bukan oleh penulis sembarangan tapi peneliti, intelektual-intelektual yang sudah lama bergelar profesor dari dalam dan luar negeri.

Membahas tentang Gus Dur, NU, kondisi dan prospek kelompok sipil dimasa Orde Baru. Pada masa itu, Gus Dur yang merupakan representasi kelompok trasional pesantren malah sebagai pengritik pemerintahan Suharto paling tajam pada rezim Suharto yang dikenal sering menggunakan tentara dan polisi untuk membungkam para pengkritiknya.

Tentu buku ini merekam pemikiran, gagasan, gerakan dan manuver politik keummatan ketua PBNU, itulah yang ditulis dan dianalisis panjang oleh para penulis dari dalam dan luar negeri itu. Mereka bukan semata para intelektual tapi juga peneliti dan aktivis. Mereka mengupas kekuatan, kekurangan dan kontroversi Gus Dur secara seimbang.

Buku kedua, "Tuhan Tidak Perlu di Bela" berisi kolom-kolom Gus Dur yang terbit rutin di majalah mingguan TEMPO sejak tahun 1976-1983. Dulu Gus Dur menulis kekantor Majalah TEMPO pakai mesin tik karena saat itu belum ada komputer atau leptop seperti sekarang. Jadi dia bolak balak kantor TEMPO kalau mau menulis. Padahal dia bukan wartawan atau pegawai TEMPO.

Ada 73 tulisan Gus Dur dalam buku ini yang membahas berbagai hal. Mulai dari masalah agama, pemikiran keIslaman, kebudayaan, demokrasi, politik dalam dan luar negeri, pesantren, kyai dan lain-lain. Itu menunjukkan tingkat kecerdasan dan luasnya cakrawala berpikir Gus Dur. Makanya orang sering mengatakan, orang pesantren, anak kyai, tradisional tapi cara berpikirnya melampoi berpikir orang-orang pesantren kebanyakan.

"Tuhan Tidak Perlu di Bela" ungkapan itu pada masanya pernah jadi viral membuat banyak orang penasaran dan mengangguk-angguk kepala. Ya iyalah masak kita mentang-mentang mau membela Tuhan. Memang kita siapa haha..Kalau kita merasa mampu membela Tuhan apakah kita nanti tidak merasa menjadi Tuhan?

Buku ketiga, "Nasionalisme dan Islam Nusantara" berisi 66 tulisan yang pernah terbit di koran KOMPAS kurun 2010-2015. Para penulis dalam buku ini bukan hanya berasala dari internal NU tapi juga dari luar NU seperti Muhamadiyah, tapi juga dari non muslim. Ada yang berlatar kyai, ustazd, peneliti, dosen, wartawan, pengamat politik dan lain-lain.

Bila diringkas isi buku ini dibagi dalam 5 bab : Nasionalisme Santri dan Keutuhan NKRI, Konsistensi Merawat Islam Nusantara, Warisan Gus Dur untuk NU dan Indonesia, Konfigurasi NU sebagai Kekuatan Sipil dan Godaan Politik Kaum Sarungan.

Bagi yang penasaran dengan apa dan bagaimana Islam Nusantara termasuk yang masih curiga dengan ideom tersebut saya sarankan membaca buku ini. Buku ini terbit sebagai pengikat gagasan Islam Nusantara yang bukan saja sering disebut dan ceritakan oleh ulama, intelektual dan peneliti NU dari dalam dan luar negeri.

Tepat kalau buku ini terbit tahun 2015 ketika gagasan Islam Nusantara pertama kali ditegaskan dalam Muktamar NU 2015 lalu di Jombang sebagai spirit perjuangan dan ideologi kebangsaan nahdiyin kedepan. Ini lah 3 buku, 3 warna, 3 kelompok penulis dan 3 masa menulis. Bacaan yang tepat untuk memperkaya khasanah intelektual kita memahami bangsa, NU, ummat dan Gus Dur sebagai modal memahami dan bertindak kedepan. []

Advertisement

Artikel Terkait

Advertisement

Artikel Populer

Artikel Terbaru