Silaturrahmi Ramadhan Hingga Ke Masjid Aro Inaq, Sekaroh

Sapari Ramadhan putaran kedua Yayayasan Babussalam NTB digelar Senin malam (21/5/2018) di Masjid Aro Inaq, Desa Sekaroh, Kecamatan Jerowaru, Kabupaten Lombok Timur. Sapari Ramadhan rutin setiap tahunnya ini langsung dipimpin Ketua Pendidi sekaligus pembina Yayasan Babussalam Dr. H. Lemen Arjiman, M.Pd, disertai sejumlah pengurus lainnya seperti Drs. TGH. Juani M.Pd, Ustaz Budi Mansur, S.Ag, M.Pd,dan civitas akademika Sekolah Tinggi Tarbiyah Islamiyah NTB perwakilan Lombok Timur, seperti Jumardi M. Pd Kepala SMK Babussalam Sukaraja, Jerowaru, Lombok Timur.

            Lemen Arjiman menyatakan, di Lombok Timur, tepatnya di Dusun Montongsari prasana pendidikan dibawah Yayasan Babussalam Tarbiyah Islamiyah NTB sudah dibangun mulai dari tingkat pendidikan SD/MI, SMP, hingga SMK. SMK terdiri dari beberapa jurusan diantaranya jurusan perawat, tata boga, komputer, mekanik (perbengkelan), mebeler, pariwisata, tata rias dan sebagainya.

            Praktek Kerja Lapangan (PKL) kata Lemen dilaksanakan di Bandung dengan subsidi biaya juga diberikan oleh yayasan. “Hal ini dimaksudkan untuk menghasilkan tenaga-tenaga lulusan yang bisa mandiri dan bisa menciptakan lapangan kerja sendiri.

Lemen juga mengungkapkan, kedatangannya ke Masjid Aro Inaq selain untuk bersilaturrahmi dalam rangka safari ramadhan juga dimaksudkan untuk memberikan informasi pentingnya menyiapkan diri bagi generasi penerus dengan berbekal ilmu pengetahuan dan teknolgi. Karena dengan ilmu pegetahuanlah akan menyelamatkan manusia dalam kehidupan dunia dan akhirat. Selain itu dengan ilmu seseorang akan bisa maju dan mandiri. “Silaturrahmi kata Lemen banyak manfaat yang diperoleh diantaranya memudahkan rezki, memperpanjang umur dan mempererat ukuwah islamiyah,” ujar Lemen.

            Dari sudut klasifikasi setiap sepuluh hari tahapan-tahapan ramadan diantaranya. 10 hari pertama merupakan  rahmat.  Ramadhan adalah awal melelahkan dan ujian bagi kesabaran dalam melaksanakn amalan yang sangat di cintai oleh Allah. Para ulama memaknai sepuluh hari pertama bulan ramadhan sebagai Rahmat, yaitu terbukanya pintu Rahmat Allah yang diberikan kepada hamba-hamba pilihan-Nya yang menunaikan puasa.

            Selanjutnyapada 10 hari kedua merupakan hari Maghfiroh. Kemuliaan dan keistimewaan bulan ramadhan disamping terkabulnya segala doa dan permohonan hamba kepada Allah, juga diampuni-Nya segala dosa-dosa yang telah lalu, sehingga pada sepuluh hari kedua atau pertengahan pada bulan ramadhan, sering dimaknai sebagai Magfirah ‘yaitu “Ampunan” segala dosa-dosa kita yang telah lalu oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala. Seyogyanya kita memanfaatkan momentum ramadhan yang penuh magfirah.dengan memperbanyak memohon segala Ampunan-Nya.

            Dan pada 10 hari ketiga Alloh akan membebaskan seseorang dari : Dijauhkan dari api neraka. Sepuluh hari terakhir di bulan ramadhan yang paling utama dinamakan “Itqun Minan Nar” (Pembebasan dari Api Neraka). Rasulullah Saw, jika Ramadhan memasuki sepuluh hari terakhir, maka beliau semakin memaksimalkan dalam beribadah. Beliau menghidupkan malam harinya untuk bertaqarrub mendekatkan diri kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.

            Sementara itu dalam tausyiah Ramadannya Ustaz Budi Mansur, S.Ag, M.Pd menyatakan, buln Ramadan merupakan bulan yang harus dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya untuk memperoleh pahala sebanyakbanyaknya. Dalam bulan Ramadan manusia harus bisa membedakan antara peran nafsu dan akal. Nafsu harus dikekang sedemikian rupa untuk memanfaatkan akal dengan sebaik-baiknya untuk mencapaidajat taqwa.

            “Karena itu dalam bulan Ramadan ini kami mengajak jamaah yang ada di Aro Inaq ini untuk menjalani puasa dengan ketulusan, keimanan dan ketaqwaan semata-mata mendapatkan pahala dari Alloh SWT untuk mencapa derajat taqwa,” kata Budi. (wardi)  

Advertisement

Artikel Terkait

Advertisement

Artikel Populer

Artikel Terbaru