10 Inovasi Penyelenggaraan Ibadah Haji Tahun 1439 H/2018 M

Mataram, KM_Berbagai inovasi dilakukan Kementerian Agama RI pada musim haji 1439 H/2018 M. Hal ini sebagai upaya untuk memberikan pelayanan terbaik untuk Jama’ah Haji Indonesia. Pasalnya, Kementerian Agama RI menargetkan kepuasan pelayanan Jama’ah Haji tahun 2018 mencapai 85 persen.

H.M. Ali Fikri, S.Ag, MM, Kepala Bidang Penyelenggaraan Haji dan Umrah (PHU) Kantor Wilayah Kementerian Agama Prov. NTB memberikan penjelasan, pelaksanaan ibadah haji seperti yang diamanatkan oleh Kementerian Agama supaya terus berupaya mencapai angka kepuasan yang  ditargetkan mencapai 85 persen.

Ali Fikri menjelaskan ada 10 (Sepuluh) inovasi penyelenggaraan ibadah haji tahun 1439 H/2018 H, seperti yang dimuat pada laman resmi Kementerian Agama RI www.kemenag.go.id, sebagai berikut:

  1. Percepatan keimigrasian. Rekam biometriks Jama’ah Haji dilakukan di Embarkasi haji sehingga masa antrian di Bandara Saudi tidak lama. Antrian yang sebelumnya 5 jam menjadi 1-2 jam.
  2. QR Code pada gelang Jama’ah Haji. QR Code pada gelang Jama’ah Haji yang berisi rekam data identitas Jama’ah Haji sehingga bisa diakses melalui aplikasi haji pintar. Ini memudahkan petugas mengidentifikasi Jama’ah Haji yang membutuhkan bantuan.
  3. Akomodasi. Sistem sewa akomodasi satu musim penuh untuk sebagian hotel (52,02 % Jama’ah) di Madinah. Selama ini, sewa akomodasi dilakukan secara blocking time. Dengan begitu, pemindahan Jama’ah Haji dari Madinah ke Mekkah atau sebaliknya, dapat dilakukan dengan memperhatikan kenyamaan Jama’ah Haji.
  4. Bumbu Masakan Indonesia. Penggunaan bumbu masakan dan juru masak (chef) asal Indonesia. Selain untuk menjaga cita rasa khas kuliner Indonesia, ini juga untuk meningkatkan ekspor Indonesia ke luar negeri.
  5. Penambahan katering Mekkah. Layanan katering bagi Jama’ah Haji Indonesia selama di Mekkah ditambah. Kalau sebelumnya hanya 25 kali, tahun ini menjadi 40 kali. Sementara dana living cost sebesar SAR1500, tetap diberikan sebagaimana biasa sehingga bisa digunakan Jama’ah Haji untuk keperluan lainnya.
  6. Tanda paspor dan koper. Penandaan khusus pada paspor dan koper, serta penggunaan tas kabin. Ini akan memudahkan pengelompokkan paspor dan koper Jama’ah Haji. Apalagi, tanda warna ini juga sekaligus menunjukkan sektor atau wilayah hotel dan nomor hotel tempat tinggal Jama’ah Haji.
  7. Pengalihan porsi waris. Pengalihan porsi bagi Jama’ah wafat kepada ahli waris. Sebelumnya, porsi Jama’ah wafat tidak bisa digantikan sehingga uangnya ditarik kembali oleh ahli waris. Jika akan digunakan untuk mendaftar, maka ahli waris terhitung dalam antrian baru.
  8. Visa print kertas. Pencetakan visa yang saat ini sudah bisa dilakukan oleh Kemenag. Ini penting dalam mempercepat proses penyiapan dokumen keberangkatan Jama’ah Haji. Sebelumnya, Kemenag harus menunggu visa dari Kedutaan Saudi sehingga tidak jarang prosesnya menjadi lebih lama.
  9. Konsultan ibadah. Penempatan satu konsultan ibadah di tiap sektor, tidak hanya di kantor Daker (Daerah Kerja) Mekkah. Konsultan ini diharapkan bisa bersinergi dengan Tim Pembimbing Ibadah Haji Indonesia (TPIHI) yang ada di tiap kloter.
  10. P3JH. Membentuk Tim Pertolongan Pertama pada Jama’ah Haji (P3JH) untuk membantu layanan kesehatan pada puncak haji, utamanya pada hari pertama lontar jumrah. Belajar dari tahun-tahun sebelumnya, banyak Jama’ah Haji yang membutuhkan pertolongan kesehatan di areal Jamarat menuju Mina.  (NR)

Advertisement

Artikel Terkait

Advertisement

Artikel Populer

Artikel Terbaru