The Santri

THE SANTRI, NU DAN FPI

Nahdlatul Ulama (NU) adalah organisasi terbesar di Indonesia, bahkan terbesar di dunia. Dengan kuantitas jumlah warga yang sangat besar, lebih dari 100 juta, NU mempunyai potensi yang sangat dahsyat, baik kekuatan sosial, politik, ekonomi, budaya dan sebagainya.

Dengan jumlah anggotanya yang melimpah ruah tersebut, NU ibarat gadis cantik yang siapapun ingin menggaetnya terutama untuk dukungan politik. Sehingga NU ditarik-tarik oleh para politikus maupun parpol untuk memaksimalkan kerja mesin pendulang suaranya. 

 

Jika diamati ternyata terdapat kelompok yang sangat benci kepada NU, sampai punya target membubarkan NU. Mereka, musuh-musuh NU mentargetkan NU lenyap pada tahun 2025. Golongan pembenci NU tersebut ingin menghancurkan NU karena keberadaannya dirugikan dengan adanya NU. 

Jika dipetakan penyebab kebenciannya terhadap NU ada beberapa faktor:

1. Politik. Ambisi politik kekuasaan mereka terjungkal oleh kekuatan politik NU yang lurus. Mereka yang berpolitik kotor tentu tidak suka dan konsep siyasah NU yang konsisten mengawal Pancasila, NKRI dan Islam Aswaja di Indonesia. Dalam golongan ini, mereka ada juga yang mengklim dirinya juga sebagai penganut Aswaja. Namun Aswajanya beda dengan Aswaja NU.

2. Paham keagamaan. Kelompok ini memang beda dengan NU dalam memahami al-Quran dan Hadits. Mereka mengklaim pemilik kebenaran, seakan sebagai polisi agama. Sikap merasa benar sendiri yang anti toleransi dan anti menghormati serta anti menghargai pendapat lain mengakibatkan mereka gemar menvonis saudaranya seiman dengan tuduhan bid’ah, sesat, murtad, syirik dan kafir.

3. Ekonomi. Mereka takut jika NU sampai besar, apalagi sampai memegang kekuasaan maka pundi-pundi ekonominya akan lenyap. Dalam melapangkan jalannya kerajaan ekonominya, mereka bekerjasama dengan kelompok politik serta keagamaan (yang berseberangan dengan NU) untuk menghabisi NU ditahun yang ditargetkan.

4. Sosial Budaya. Dalam pandangan budaya mereka, kelompok pembenci NU berbeda pandangan. Mereka menganggap bahwa budaya Arab/Timur Tengah adalah satu-satunya budaya yang Islami, sehingga budaya Nusantara dituduh khurafat dan sesat bahkan bisa menyebabkan murtad.

Dalam prakteknya, mereka pembenci NU apakah karena faktor politik, perbedaan paham keagamaan, ekonomi dan sosial budaya seringkali berkolaborasi dengan menganggap NU sebagai “common enemy”, musuh bersama. Mereka bergandengan tangan dalam menyikat NU.

Semakin jelas dan terbukti bahwa ada kekuatan tertentu yang akan menghabiskan NU. Dengan kalimat ini, dulu banyak yang mengira NU hanya ketakutan yang tak beralasan, dalam artian dikiranya itu hanya prasangka NU saja, lebay. Namun saat ini dan dengan melihat jejak digital, ternyata memang benar-benar ada kekuatan yang akan menghabiskan NU. Bukti nyata sudah terpampang di depan mata. Terkait hal tersebut, saya pribadi yakin seyakin-yakinnya.

Coba bisa diperhatikan mulai saat ini dan/atau hitung mundur ke belakang, banyak program, ide NU yang dimentahkan. Anehnya, yang mementahkan itu bukan non muslim, bukan kelompok liberal, bukan Syiah, bukan Ahmadiyah, tapi saudara muslim sendiri yang justru mengklaim sebagai Aswaja juga. Jika sudah seperti itu, salahkah jika NU memukul balik mereka? Saya piker tidak salah, istilahnya itu 1 – 1. Dan anehnya disaat NU menyerang balik mereka, NU dituduh merusak ukhuwah Islamiyah, NU radikal, NU tidak toleransi, dsb.

Diantara yang membenci NU itu adalah Front Pembela Islam (FPI) dan juga mereka yang menamakan NU GL. Seakan mereka lebih gencar serangannya terhadap NU dibanding Wahabi, HTI, dsb. Padahal mereka mengaku-ngaku sama-sama Aswaja, bahkan FPI mengaku sebagai anak NU. Sampai FPI bilang bahwa NU adalah payung besar Aswaja. Namun kenyataannya program NU ditolak, minimal dimentahkan, diantaranya:

1. Konsep Islam Nusantara.

2. Film Tanda Tanya, yang menggambarkan sosok Banser.

3. Film The Santri.

4. Dsb.

Terkait film The Santri, yang lagi hangat-hangatnya, coba dikaji dengan pikiran yang jernih dan hati yang lapang. Film The Santri sedianya bakal ditayangkan di bioskop pada awal Oktober mendatang. The Santri merupakan film yang diinisasi PBNU melalui NU Channel yang bekerja sama dengan sutradara Livi Zheng dan Ken Zheng serta penata musik Purwacaraka. The Santri mengetengahkan cerita nuansa millenial dengan bintang-bintang milenial pula.

Ketua Umum PBNU, Prof.Dr.KH. Said Aqil Siroj menjadi executive producers. Wakil Sekjen PBNU Imam Pituduh juga mengemban jabatan serupa. Imam Pituduh mengatakan bahwa film The Santri bakal memuat nilai-nilai santri dan tradisi pembelajaran di pondok pesantren. Sisi-sisi kemandirian, kesederhanaan serta toleransi dan kecintaan terhadap tanah air juga akan ditampilkan. Film The Santri juga bisa dinikmati oleh semua kalangan usia, suku, ras, dan agama.

"Nilai-nilai tersebut adalah khazanah bangsa yang wajib dilestarikan, agar dapat diwariskan dari generasi ke generasi. Agar dunia aman, damai, adil, dan makmur serta beradab," ungkap Imam Pituduh.

Jika dipetakan, penolak film The Santri adalah kelompok FPI dan NU GL. NU GL adalah kumpulan oknum orang-orang NU yang sakit hati karena tidak terpilih dalam Muktamar NU, baik Muktamar Makasar maupun Jombang. Akhirnya mereka berkolaborasi dengan kelompok luar NU yang memang dari dulu anti NU untuk mendiskreditkan NU mainstream (PBNU).

Menantu Imam Besar FPI Rizieq Shihab, yaitu Hanif Alathas menyatakan sikap untuk menolak penayangan film The Santri. Hanif sendiri merupakan Ketua Umum Front Santri Indonesia (FSI), suatu organisasi santri dibawah underbouw FPI.

"Front Santri Indonesia menolak film The Santri karena tidak mencerminkan akhlak dan tradisi santri yang sebenarnya," tutur Hanif.

Pentolan NU GL, Lutfhi Bashori meminta kepada para santri dan jamaahnya agar tidak menonoton film The Santri yang akan tayang pada Oktober mendatang. Dia menyampaikan imbauan itu lantaran menilai film The Santri tidak sesuai dengan syariat Islam serta tidak mengandung tradisi pesantren Ahlussunah wal Jamaah.

"Karena film ini tidak mendidik, cenderung liberal. Ada akting pacaran, campur aduk laki perempuan dan membawa tumpeng ke gereja," tutur Luthfi.

Semua tuduhan mereka tersebut adalah tidak beralasan, dan sepertinya memang sengaja untuk menghambat laju NU. Mereka takut jika NU tumbuh besar dan menjadi kekuatan yang dahsyat. Yang akhirnya dapat merugikan kepentingannya.

Penulis singkat, sahabat (M. Zafan)

Advertisement

Artikel Terkait

Advertisement

Artikel Populer

Artikel Terbaru