Penjor Bukan Sekedar Hiasan

Sumbawa Besar_Penjor bagi Umat Hindu adalah bukan sembarang penjor, karena dalam penjor terdapat simbul-simbul dalam menghubungkan diri dengan Ida Sanghyang Widi Wasa, walaupun bentuk dan jenis simbol yang berbeda tetapi memiliki fungsi yang sama, dimaka simbul-simbul yang ada di penjor tersebut memiliki makna yang sangat tinggi karena terkaitannya dengan alam dan isi permohonan manusia.

Melihat makna penjor yang dipenuhi simbul-simbul sangat sakral, sehingga seni penjor dimasukkan kedalam daftar mata lomba pada kegiatan Utsawa Dharma Gita (UDG) Ke-XIV Tingkat Provinsi Nusa Tenggara Barat, bahkan pada UDG di Tingkat Nasionalpun penjor masuk dalam jenis mata lomba.

“Sudah menjadi kesepakatan dewan juri, bahwa penjor dapat dikerjakan sebelum pengambilan nilai oleh Dewan Juri, karena yang dinilai adalah seni dari pembentukan penjor itu sendiri, bukan pada saat pembuatannya” ujar Wakil Ketua LPDG pada Humas Kanwil Kemenag NTB pada saat memantau dari dekat persiapan Pembukaan UDG Ke-XIV Tingkat Provinsi NTB yang akan dibuka Gubernur Nusa Tenggara Barat.

Penjor sebagai tanda terima kasih manusia atas kemakmuran yang dilimpahkan Ida Sang Hyang Widi Wasa, bambu tinggi melengkung yaitu gambaran dari gunung yang teratas yang merupakan lokasi penuh kesucian, hiasan yang terdiri dari kelapa, pisang, tebu, padi, jajan dan kain yakni adalah wakil-wakil dari semua tumbuh-tumbuhan dan benda sandang pangan yang dikarunia oleh Hyang Widhi Wasa, papar Dewa Ketut Mertayasa kepada Humas Kanwil Kemenag Provinsi NTB.

“Sesungguhnya unsur-unsur penjor tersebut ialah merupakan symbol-simbol suci, sebagai landasan peng-aplikasian ajaran Weda, maka mencerminkan adanya nilai-nilai tradisi Agama”, pungkas Dewa Ketut Mertayasa sambil memantau peserta Lomba Penjor di halaman STAHN Gde Pudja Mataram sore ini (Jum’at, 15-11-2019).

Advertisement

Artikel Terkait

Advertisement

Artikel Populer

Artikel Terbaru